Kamis, 28 Juli 2016

Makalah herpes,varicella dan toxoplasmosis

BAB I
PENDAHULUAN

1.1            Latar Belakang
Kelangsungan sebuah bangsa bergantung pada generasi penerusnya, jika generasi penerus itu baik maka baik juga sebuah bangsa, tapi jika generasi penerusnya tidak baik maka kehancuran yang akan didapat sebuah bangsa. Herpes genital termasuk penyakit menular seksual yang ditakuti oleh setiap orang. Angka kejadian penyakit ini termasuk tinggi di Indonesia. Kelompok resiko yang rentan terinfeksi tentunya adalah seseorang dengan perilaku yang tidak sehat. Ibu hamil mempunyai resiko yang besar jika sampai terkena penyakit menular seksual, tidak hanya pada dirinya tapi jula pada janinnya.
         variella atau yang dikenal juga secara awam sebagai cacar air adalah penyakit infeksi virus yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster. Di Indonesia, penyakit ini disebut sebagai cacar air karena gelembung atau bisul yang terbentuk pada kulit apabila pecah mengeluarkan air. Penyakit ini sangat mudah untuk menyebar kepada orang lain, terutama anak-anak, yang belum pernah terkena varicella sebelumnya. Penyebaran dari virus Varicella Zoster terjadi melalui udara dan kontak langsung dengan penderita.
Toxoplasmosis penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasma gondii. Toxoplasma gondii yaitu suatu parasit intraselluler yang menginfeksi pada manusia dan hewan. Tboxoplasma gondii termasuk spesies dari kelas sporozoa (Cocidia), pertama kali ditemukan pada binatang pengerat Ctenodactylus gundi di Afrika Utara (Tunisia) oleh Nicolle dan Manceaux tahun 1908. Tahun 1928 Toxoplasma gondii ditemukan pada manusia pertama kali oleh Castellani

1.2            Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang didapat dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1.      Apa definisi dari Herpes Genetalis,varisella,toksoplasmosis ?
2.      Apa saja etiologi dari Herpes Genitalis,varisella,toksoplasmosis ?
3.      Bagaimana patofisiologi dari Herepes genetalis,varisella,toksoplasmosis ?
4.      Apa saja tanda dan gejala Herpes Genetalis,varisella,toksoplasmosis
5.      Bagaimana penatalaksanaan dan pengobatan dari Herpes Genitalis ?




1.3            Tujuan Penulisan
1.      Untuk mengetahui definisi dari Herpes genetalis,varisella,toksoplasmosis,.
2.      Untuk mengetahui etiologi dari Herpes genetalis,varisella,toksoplasmosis.
3.      Untuk mengetahui patofisiologi dari Herpes Genetalis,varisella,toksoplasmosis.
4.      Untuk mengetahui tanda dan gejala dari Herpes Genetalis,varisella,toksoplasmosis.
5.      Untuk mengetahui penatalaksanaan dan pengobatan dari Herpes Genitalis.




























BAB II
PEMBAHASAN

A. DEFINISI
1.HERPES
 genitalis adalah infeksi yang menyerang vagina dan labia ( bibir kemaluan ). Herpes ini paling sering ditularkan selama aktivitas seksual seseorang yang mempunyai luka herpes aktif. Tidak ada pengobatan herpes, karena itu penyakit ini menjadi penyakit kambuhan infeksi pertama kali muncul disebut infeksi primer.
Herpes genitalis merupakan infeksi pada genital dengan gejala khas berupa vesikel yang berkelompok dengan dasar eritem bersifat rekuren. Herpes genitalis terjadi pada alat genital dan sekitarnya (bokong, daerah anal dan paha).

2.VARICELLA
           Cacar air adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster yang mengakibatkan munculnya ruam kulit berupa kumpulan bintik-bintik kecil baik berbentuk datar maupun menonjol, melepuh serta berkeropeng dan rasa gatal. Penyakit cacar air merupakan penyakit menular yang bisa ditularkan seseorang kepada orang lain secara langsung. Cacar air dikenal juga dengan nama lainnya yaitu varisela dan chickenpox.

3.TOKSOPLAKMOSIS
Toxoplasmosis merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasmosis gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi pada manusia dan hewan peliaharaan. Penderita Toxoplasmosis sering tidak memperlihatkan suatu tanda klinis yang jelas sehingga dalam menentukan diagnosis penyakit toxoplasmosis sering terabaikan dalam praktik dokter sehari-hari. Apabila penyakit toxoplasmosis mengenai wanita hamil trismester ketiga dapat mengakibatkan hidrochephalus, khorioretinitis, tuli atau epilepsi.



B. ETIOLOGI
1.HERPES GENITALIS
Herpes genitalis disebabkan oleh HSV atau herpes virus hominis (HVH), yang merupakan anggota dari famili herpesviridae. Adapun tipe-tipe dari HSV :
1.      Herpes simplex virus tipe I : pada umunya menyebabkan lesi atau luka pada sekitar wajah, bibir, mukosa mulut, dan leher.
2.      Herpes simplex virus tipe II : umumnya menyebabkan lesi pada genital dan sekitarnya (bokong, daerah anal dan paha).
Sebagian besar kasus herpes genitalis disebabkan oleh HSV-2, namun tidak menutup kemungkinan HSV-1 menyebabkan kelainan yang sama.
Pada umumnya disebabkan oleh HSV-2 yang penularannya secara utama melalui vaginal atau anal seks. Beberapa tahun ini, HSV-1 telah lebih sering juga menyebabkan herpes genital. HSV-1 genital menyebar lewat oral seks yang memiliki cold sore pada mulut atau bibir, tetapi beberapa kasus dihasilkan dari vaginal atau anal seks.

2.VARICELLA       
Penyebab dari penyakit cacar air adalah infeksi suatu virus yang bernama virus varicella zoster yang disebarkan manusia melalui cairan percikan ludah maupun dari cairan yang berasal dari lepuhan kulit orang yang menderita penyakit cacar air. Seseorang yang terkena kontaminasi virus cacar air varicella zoster ini dapat mensukseskan penyebaran penyakit cacar air kepada orang lain di sekitarnya mulai dari munculnya lepuhan di kulitnya sampai dengan lepuhan kulit yang terakhir mongering.
                                                                     
3.TOKSOPLASMOSIS
Toxoplasmosis ditemukan oleh Nicelle dan Manceaux pada tahun 1909 yang menyerang hewan pengerat di Tunisia, Afrika Utara. Selanjutnya setelah diselidiki maka penyakit yang disebabkan oleh toxoplasmosis dianggap suatu genus termasuk famili babesiidae.
Toxoplasma gondii adalah parasit intraseluler pada momocyte dan sel-sel endothelial pada berbagai organ tubuh. Toxoplasma ini biasanya berbentuk bulat atau oval, jarang ditemukan dalam darah perifer, tetapi sering ditemukan dalam jumlah besar pada organ-organ tubuh seperti pada jaringan hati, limpa, sumsum tulang, pam-pam, otak, ginjal, urat daging, jantung dan urat daging licin lainnya.



C. PATOFISIOLOGI
1.HERPES
HSV-1 dan HSV-2 adalah termasuk dalam famili herphesviridae, sebuah grup virus DNA rantai ganda lipid-enveloped yang berperanan secara luas pada infeksi manusia. Kedua serotipe HSV dan virus varicella zoster mempunyai hubungan dekat sebagai subfamili virus alpha-herpesviridae.
Infeksi HSV-1 biasanya terbatas pada orofaring, virus menyebar melalui droplet pernapasan, atau melalui kontak langsung dengan saliva yang terinfeksi. HSV-2 biasanya ditularkan secara seksual. Setelah virus masuk ke dalam tubuh hospes, terjadi penggabungan dengan DNA hospes dan mengadakan multiplikasi serta menimbulkan kelainan pada kulit.
Waktu itu pada hospes itu sendiri belum ada antibodi spesifik. Keadaan ini dapat mengakibatkan timbulnya lesi pada daerah yang luas dengan gejala konstitusi berat. Selanjutnya virus menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion saraf regional dan berdiam di sana serta bersifat laten. Infeksi orofaring HSV-1 menimbulkan infeksi laten di ganglia trigeminal, sedangkan infeksi genital HSV-2 menimbulkan infeksi laten di ganglion sakral.
Faktor pencetus tersebut antara lain adalah trauma atau koitus, demam, stres fisik atau emosi, sinar UV, gangguan pencernaan, alergi makanan dan obat-obatan dan beberapa kasus tidak diketahui dengan jelas penyebabnya. Penularan hampir selalu melalui hubungan seksul baik genito genital, ano genital maupun oro genital.

2.VARICELLA
          Virus masuk traktus respiratorius bagian atas dan orofaring, kemudian memperbanyak diri dan mneyebar melalui aliran darah dan limfe ke jaringan retikulo-endo-telial, di sini memperbanyak diri lagi dan menyebar ke seluruh tubuh terutama kulit dan mukosa.

3.TOKSOPLASMOSIS
Toxoplasma gondii adalah parasit protozoa yang merupakan salah satu penyebab kelainan kongenital yang cukup dominan dibandingkan penyebab lainnya yang tergolong dalam TORCH. Hospes primernya adalah kucing. Kucing ini telah mempunyai imunitas, tetapi pada saat reinfeksi mereka dapat menyebarkan kembali sejumlah kecil ookista. Ookista ini dapat menginfeksi manusia dengan cara memakan daging, buah-buahan, atau sayuran yang terkontaminasi atau karena kontak dengan faeces kucing. Dalam sel–sel jaringan tubuh manusia, akan terjadi proliferasi trophozoit sehingga sel–sel tersebut akan membesar.

Trophozoit akan berkembang dan terbentuk satu kista dalam sel, yang di dalamnya terdapat merozoit. Kista biasanya didapatkan di jaringan otak, retina, hati, dan lain-lain yang dapat menyebabkan kelainan pada organ-organ tersebut, seperti microcephali, cerebral kalsifikasi, chorioretinitis, dll. Kista toksoplasma ditemukan dalam daging babi atau daging kambing. Sementara itu, sangat jarang pada daging sapi atau daging ayam. Kista toksoplasma yang berada dalam daging dapat dihancurkan dengan pembekuan atau dimasak sampai dagingnya berubah warna. Buah atau sayuran yang tidak dicuci juga dapat menstranmisikan parasit yang dapat dihancurkan dengan pembekuan atau pendidihan. Infeksi T.gondii biasanya tanpa gejala dan berlalu begitu saja. Setelah masa inkubasi selama lebih kurang 9 hari, muncul gejala flu seperti lelah, sakit kepala, dan demam yang dapat muncul hampir bersamaan dengan limpadenopati, terutama di daerah serviks posterior.

D. TANDA DAN GEJALA
1.HERPES
Infeksi awal dari 63% HSV-2 dan 37% HSV-1 adalah asimptomatik. Simptom dari infeksi awal (saat inisial episode berlangsung pada saat infeksi awal) simptom khas muncul antara 3 hingga 9 hari setelah infeksi, meskipun infeksi asimptomatik berlangsung perlahan dalam tahun pertama setelah diagnosa di lakukan pada sekitar 15% kasus HSV-2. Inisial episode yang juga merupakan infeksi primer dapat berlangsung menjadi lebih berat. Infeksi HSV-1 dan HSV-2 agak susah dibedakan.
Gejala dari herpes disebut juga outbreaks, muncul dalam dua minggu setelah orang terinfeksi dan dapat saja berlangsung untuk beberapa minggu. Adapun gejalanya sebagai berikut :
·         Nyeri dan disuria
·         Uretral dan vaginal discharge
·         Gejala sistemik (malaise, demam, mialgia, sakit kepala)
·         Limfadenopati yang nyeri pada daerah inguinal
·         Nyeri pada rektum, tenesmus
Tanda (sign) :
·         Eritem, vesikel, pustul, ulserasi multipel, erosi, lesi dengan krusta tergantung pada tingkat infeksi.
·         Limfadenopati inguinal
·         Faringitis
·         Cervisitis



2.VARISELLA
      Adapun tanda terserangnya penyakit cacar air yang disebabkan oleh virus Varicella, yaitu sebagai berikut :
·         Pada awal terinfeksi virus tersebut, pasien akan menderita rasa sakit seperti terbakar dan kulit menjadi sensitif selama beberapa hari hingga satu minggu
·         Setelah dua atau tiga hari kemudian akan mulai muncul bintek merah datar yang disebut macula, lalu menjadi menonjol yang disebut papula, kemudian muncul cairan didalamnya seperti melepuh disertai rasa gatal yang disebut vesikel, dan yang terakhir adalah mengering sendiri. Lama proses mulai dari macula, papula, vesikel dan kropeng membutuhkan waktu kurang lebih 6 sampai 8 jam. Proses berulang-ulang ini akan berlangsung selama empat hari.
·         Pada hari ke lima biasanya tidak ada kemunculan lepuhan baru di kulit.
·         Pada hari ke enam semua lepuhan yang tadinya muncul akan kering dengan sendirinya dan akhirnya hilang setelah kurang lebih sekitar 20 hari.
·         Setelah 10 sampai 21 hari setelah terkena infeksi virus cacar air muncul gejala penyakit seperti sakit kepala, demam sedang dan juga rasa tidak enak badan. Pada anak di bawah umur 10 tahun biasanya tidak muncul gejala, sedangkan pada orang dewasa bisa lebih parah gejalanya.
                                             
           Pada anak-anak yang terkena cacar air biasanya tidak mengalami kesulitan yang berarti untuk bisa cepat sembuh, namun pada orang dewasa dan juga orang yang mengalami gangguan kekebalan tubuh dari penyakit, maka penyakit cacar air bisa berakibat buruk dan bahkan fatal. Komplikasi penyakit yang dapat terjadi akibat cacar air adalah seperti :
-          Pnemounia yang diakibatkan virus lain
-          Ensefalitis atau infeksi pada otak
-          Peradangan pada jantung
-          Peradangan pada sendi
-          Peradangan pada hati

3.TOKSOPLASMOSIS
Tanda-tanda yang terkait dengan toksoplasmosis yaitu (Medows, 2005):
1.      Toxoplasma pada orang yang imunokompeten
Hanya 10-20% dari infeksi toksoplasma pada orang imunokompeten dikaitkan dengan tanda-tanda penyakit. Biasanya, pembengkakan kelenjar getah bening (sering di leher). Gejala lain bisa termasuk demam, malaise, keringat malam, nyeri otot, ruam makulopapular dan sakit tenggorokan.

2.      Toxoplasmosis pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah
Toxoplasmosis pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah misalnya, pasien dengan AIDS dan kanker. Pada pasien ini, infeksi mungkin melibatkan otak dan sistem syaraf, menyebabkan ensefalitis dengan gejala termasuk demam, sakit kepala, kejang-kejang dan masalah penglihatan, ucapan, gerakan atau pemikiran. manifestasi lain dari penyakit ini termasuk penyakit paru-paru, menyebabkan demam, batuk atau sesak nafas dan miokarditis dapat menyebabkan gejala penyakit jantung, dan aritmia.
3.      Toxoplasma Okular
Toksoplasmosis okular oleh uveitis, sering unilateral, dapat dilihat pada remaja dan dewasa muda, sindrom ini sering merupakan akibat dari infeksi kongenital tanpa gejala atau menunda hasil infeksi postnatal. Infeksi diperoleh pada saat atau sebelum kehamilan sehingga menyebabkan bayi toksoplasmosis bawaan. Banyak bayi yang terinfeksi tidak menunjukkan gejala saat lahir, namun sebagian besar akan mengembangkan pembelajaran dan visual cacat atau bahkan yang parah, infeksi yang mengancam jiwa di masa depan, jika tidak ditangani.
4.      Toksoplasmosis pada wanita hamil
Kebanyakan wanita yang terinfeksi selama kehamilan tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit. Hanya wanita tanpa infeksi sebelumnya dapat menularkan infeksi ke janin. Kemungkinan penyakit toksoplasmosis bawaan terjadi ketika bayi baru lahir, tergantung pada tahap kehamilan saat infeksi ibu terjadi. Pada kondisi tertentu, infeksi pada wanita selama kehamilan menyebabkan abortus spontan, lahir mati, dan kelahiran prematur. Aborsi dan stillbirths juga dapat dipertimbangkan, terutama bila infeksi terjadi pada trimester pertama. Tanda dan gejalanya yaitu penglihatan kabur, rasa sakit, fotofobia, dan kehilangan sebagian atau seluruh keseimbangan tubuh.


5.      Toxoplasmosis congenital
Bayi yang terinfeksi selama kehamilan trimester pertama atau kedua yang paling mungkin untuk menunjukkan gejala parah setelah lahir. Tanda-tandanya yaitu demam, pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kuning (menguningnya kulit dan mata), sebuah kepala yang sangat besar atau bahkan sangat kecil, ruam, memar, pendarahan, anemia, dan pembesaran hati atau limpa. Mereka yang terinfeksi selama trimester terakhir biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi pada kelahiran, tetapi mungkin menunjukkan tanda-tanda toksoplasmosis okular atau penundaan perkembangan di kemudian hari.

E.  PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATAN
      1.HERPES GENETALIS
Pada penderita penyakit cacar hal yang terpenting adalah menjaga gelembung cairan tidak pecah agar tidak meninggalkan bekas dan menjadi jalan masuk bagi kuman lain (infeksi sekunder), antara lain dengan pemberian bedak talek yang membantu melicinkan kulit. Penderita apabila tidak tahan dengan kondisi hawa dingin dianjurkan untuk tidak mandi, karena bisa menimbulkan shock.
Hal ini akan mengurangi resiko menularnya herpes pada partner seksual. Obat-obatan untuk menangani herpes genital adalah :
Ø  Asiklovir (Zovirus)
Pada infeksi HVS genitalis primer, asiklovir intravena (5 mg/kg BB/8 jam selama 5 hari), asiklovir oral 200 mg (5 kali/hari saelama 10-14 hari) dan asiklovir topikal (5% dalam salf propilen glikol) dsapat mengurangi lamanya gejala dan ekskresi virus serta mempercepat penyembuhan.
Ø  Valasiklovir (Valtres)
Valasiklovir adalah suatu ester dari asiklovir yang secara cepat dan hampir lengkap berubah menjadi asiklovir oleh enzim hepar dan meningkatkan bioavaibilitas asiklovir sampai 54%.oleh karena itu dosis oral 1000 mg valasiklovir menghasilkan kadar obat dalam darah yang sama dengan asiklovir intravena. Valasiklovir 1000 mg telah dibandingkan asiklovir 200 mg 5 kali sehari selama 10 hari untuk terapi herpes genitalis episode awal.
Ø  Famsiklovir
Adalah jenis pensiklovir, suatu analog nukleosida yang efektif menghambat replikasi HSV-1 dan HSV-2. Sama dengan asiklovir, pensiklovir memerlukan timidin kinase virus untuk fosforilase menjadi monofosfat dan sering terjadi resistensi silang dengan asiklovir. Waktu paruh intrasel pensiklovir lebih panjang daripada asiklovir (>10 jam) sehingga memiliki potensi pemberian dosis satu kali sehari. Absorbsi peroral 70% dan dimetabolisme dengan cepat menjadi pensiklovir. Obat ini di metabolisme dengan baik.




2.VARISELLA
Sebenarnya penyakit cacar air dapat sembuh sendiri tanpa pemberian pengobatan apapun. Pemberian terapi bersifat supotif sesuai dengan gejala yang dialami oleh penderita. Contohnya apabila pasien demam diberikan obat penurun demam. Anti-virus juga diberikan. Menurut beberapa penelitian, pemberian anti-virus dapat mempercepat penyembuhan, mencegah perkembangbiakan dari virus, dan mengurangi gejala yang dialami penderita. Antibiotik juga diberikan untuk mencegah infeksi sekunder yang masuk melalui kulit yang sedang terluka. Penderita cacar air dapat mandi seperti biasa tetapi harus berhati-hati agar tidak memecahkan bisul karena dapat menjadi sumber infeksi sekunder.
         Untuk pengobatan dari herpes zoster perlu diberikan obat-obatan anti nyeri karena nyeri pada penyakit ini sering mengganggu. Selain itu juga dapat diberikan anti-virus terutama pada orang-orang dengan imunitas atau kekebalan tubuh yang rendah. Anti-virus bermanfaat untuk mempercepat penyembuhan, mencegah perkembangbiakan virus, mengurangi gejala yang dialami penderita, dan mengurangi resiko tejadinya nyeri setelah herpes. Untuk mengurangi peradangan yang disebabkan oleh virus ini, dapat juga menggunakan steroid.

3.TOKSOPLASMOSIS
Indikasi infeksi pada janin bisa diketahui dari pemeriksaan USG, yaitu terdapat cairan berlebihan pada perut (asites), perkapuran pada otak atau pelebaran saluran cairan otak (ventrikel). Sebaliknya bisa saja sampai lahir tidak menampakkan gejala apapun, namun kemudian terjadi retinitis (radang retina mata), penambahan cairan otak (hidrosefalus), atau perkapuran pada otak dan hati. Pemeriksaan awal bisa dilakukan dengan pengambilan jaringan (biopsi) dan pemeriksaan serum (serologis). Umumnya cara kedua yang sering dilakukan. Pada pemeriksaan serologi akan dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya reaksi imun dalam darah, dengan cara mendeteksi adanya IgG (imunoglobulin G), IgM, IgA, IgE. Pemeriksaan IgM untuk ini mengetahui infeksi baru. Setelah IgM meningkat, maka seseorang akan memberikan reaksi imun berupa peningkatan IgG yang kemudian menetap. IgA merupakan reaksi yang lebih spesifik untuk mengetahui adanya serangan infeksi baru, terlebih setelah kini diketahui lgM dapat menetap bertahun-tahun, meskipun hanya sebagian kecil kasus.
Sebenarnya sebagian besar orang telah terinfeksi parasit toksoplasma ini. Namun sebagian besar diantara
nya telah membentuk kekebalan tubuh sehingga tidak berkembang, dan parasit terbungkus dalam kista yang terbentuk dari kerak perkapuran (kalsifikasi). Sehingga wanita hamil yang telah memiliki lgM negatif dan lgG positif berarti telah memiliki kekebalan dan tidak perlu khawatir terinfeksi. Sebaliknya yang memiliki lgM dan lgG negatif harus melakukan pemeriksaan secara kontinyu setiap 3 bulan untuk mengetahui secara dini bila terjadi infeksi.


F.  PENCEGAHAN
      1.HERPES
Apabila ibu hamil terinfeksi virus ini, agar bayi tidak terinfeksi sebaiknya dilakukan operasi sesar, pencegahan lainnya dengan cara menjaga kebersihan perseorangan dan pendidikan kesehatan terutama kontak dengan bahan infeksius, menggunakan kondom dalam aktifitas seksual, dan penggunaan sarung tangan dalam menangani lesi infeksius.
Untuk mencegah transmisi dari ibu ke janin, yaitu meliputi :
1)      Pengobatan supresi pada serangan satu dalam kehamilan.
2)      Rutin pemberian antivirus pada kehamilandengan riwayat infeksi HSV.
3)      Pemeriksaan serologi (darah) pada yang berisiko terkena infeksi HSV.
4)      Pakaian bekas pakai ibu yang terinfeksi virus ini harus dicuci secara Desinfeksi Tingkat Tinggi (DTT) dengan direndam klorin kemudian di rendam air mendidih agar virus mati.

2.VARISELLA
         Untuk pencegahan penyakit ini dapat dilakukan pemberian vaksinasi. Vaksin varicella sudah dapat diberikan sejak anak berusia 12 bulan. Sebaiknya vaksin ini diberikan sebelum anak mulai masuk sekolah. Apabila vaksin ini diberikan setelah anak berusia 12 tahun, maka vaksin perlu diberikan 2 kali dengan jarak minimal antara pemberian pertama dan kedua selama 4 minggu. Berdasarkan penelitian, vaksin varicella dapat memberikan perlindungan hingga 20 tahun seteleh divaksinasi. Di Indonesia sendiri, vaksin ini belum menjadi salah satu vaksin yang disubsidi oleh pemerintah.
               Pemberian vaksin efektif melindungi 80-85% terhadap penyakit varicella dan efektif 95% mencegah varicella yang berat. Akan tetapi, sekitar 15-20% anak sehat yang diberikan vaksin ini tetap terkena varicella. Jenis varicella yang dialami jenis yang ringan di mana tidak ditemukan adanya demam, bisul pada kulit yang lebih sedikit, dan keluhan lain juga lebih ringan. Selain itu, varicella pada anak yang sudah divaksinansi juga jarang menular kepada orang lain yang belum terkena varicella.          
Untuk mencegah tejadinya infeksi bakteri serta komplikasi akibat serangan cacar air bisa dilakukan beberapa usaha berikut ini, antara lain :
-          Menjaga kebersihan tangan dengan rajin mencuci tangan dengan sabun
-          Memotong kuku yang panjang dan mengikir kuku yang tajam
-          Sering mandi atau mencuci kulit dengan sabun anti kuman
-          Memakai pakaian yang telah dicuci bersih dan kering serta nyaman dipakai
-          Sering mengganti pakaian jika sudah dirasa kotor atau tidak nyaman

3.TOKSOPLASMOSIS
Terdapat beberapa pencegahan yang dapat dilakukan untuk menghindari penyakit toksoplasmosis, antara lain (Chin, 2000):
1.      Mendidik ibu hamil tentang langkah-langkah pencegahan:
a.       Gunakan iradiasi daging atau memasak daging pada suhu 150°F (66°C) sebelum dimakan. Pembekuan daging tidak efektif untuk menghilangkan Toxoplasma gondii.
b.      Ibu hamil sebaiknya menghindari pembersihan sampah panci dan kontak dengan kucing. Memakai sarung tangan saat berkebun dan mencuci tangan setelah kerja dan sebelum makan.
2.      Makanan kucing sebaiknya kering, kalengan atau rebus dan mencegah kucing tersebut berburu (menjaga mereka sebagai hewan peliharaan dalam ruangan).
3.      Menghilangkan feses kucing (sebelum sporocyst menjadi infektif). Feses kucing dapat dibakar atau dikubur. Mencuci tangan dengan bersih setelah memegang material yang berpotensial terdapat Toxoplasma gondii.
4.      Cuci tangan sebelum makan dan setelah menangani daging mentah atau setelah kontak dengan tanah yang mungkin terkontaminasi kotoran kucing.
5.      Control kucing liar dan mencegah mereka kontak dengan pasir yang digunakan anak-anak untuk bermain.
6.      Penderita AIDS yang telah toxoplasmosis dengan gejala yang parah harus menerima pengobatan profilaksis sepanjang hidup dengan pirimetamin, sulfadiazine dan asam folinic.







BAB III
PENUTUP

A. KESIMPULAN
1.HERPES
Herpes genitalis adalah infeksi yang menyerang vagina dan labia ( bibir kemaluan ). Herpes ini paling sering ditularkan selama aktivitas seksual seseorang yang mempunyai luka herpes aktif. Tidak ada pengobatan herpes, karena itu penyakit ini menjadi penyakit kambuhan infeksi pertama kali muncul disebut infeksi primer.
Herpes genitalis disebabkan oleh HSV atau herpes virus hominis (HVH), yang merupakan anggota dari famili herpesviridae. Adapun tipe-tipe dari HSV :
1.      Herpes simplex virus tipe I : pada umunya menyebabkan lesi atau luka pada sekitar wajah, bibir, mukosa mulut, dan leher.
2.      Herpes simplex virus tipe II : umumnya menyebabkan lesi pada genital dan sekitarnya (bokong, daerah anal dan paha).

2.VARISELLA
Penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster ini pada dasarnya menyerang kepada tubuh orang yang belum pernah terserang oleh virus tersebut, namun apabila tubuh orang tersebut pernah terinfeksi virus varicella zoster maka tubuh orang tersebut akan membentuk anti body terhadap virus varicella zoster sehingga dimasa mendatang tidak akan terserang penyakit tersebut lagi, namun jika kekebalan tubuh orang tersebut sedang tidak baik dan ketika pengobatan tidak tuntas maka virus tersebut dapat hidup kembali dalam tubuh penderitanya.
                   Menjaga kebersihan tubuh juga sangat dianjurkan sebagai pencegahan terhadap virus tersebut seperti menjaga kebersihan tangan, memotong kuku dan mandi dan berganti pakain, Pemberian vaksin efektif melindungi 80-85% terhadap penyakit varicella dan efektif 95% mencegah varicella yang berat.

3.TOKSOLASMOSIS     
Penyakit toxoplasmosis merupakan penyakit kosmopolitan dengan frekuensi tinggi di berbagai negara juga di Indonesia karena gejala klinisnya ringan maka sering kali Input dari pengamatan dokter. Padahal akibat yang ditimbulkannya memberikan beban berat bagi masyarakat seperti abortus, lahir mati maupun cacat kongenital. Diagnosis secara laboratoris cukup mudah yaitu dengan memeriksa antibodi kelas IgG dan IgM terhadap toxoplasma gondii akan dapat diketahui status penyakit penderita.

B. SARAN
1.HERPES
Infeksi herpes simpleks genitalis memberi dampak cukup luas khususnya pada wanita, karena virus ini berhubungan dengan penyebaran kanker serviks dan menyebabkan abortus ataupun penularan kepada bayi apabila menyerang ibu hamil. Oleh karena itu, perlu penanganan secara koprehensif. Masalah yang ditemukan tidak hanya terbatas  pada cara diagnostik tetapi juga pada penanganan kasus dan komplikasi yang ditimbulkan.
Untuk mengontrol penyebaran infeksinya pun juga harus ada kerjasama yang baik antara pasien dengan perawat ataupun dokternya.

2.VARISELLA
Dikarenakan virus ini lebih banyak menyerang anak-anak, sebaiknya bagi ibu-ibu jangan panik terlebih dahulu apabila buah hatinya mengalami gejala terserang infeksi virus varicella, berikan pertolongan kepada anak dengan melakukan kompres dingin pada kulit yang terkena agar rasa gatal berkurang dan mengurangi garuk-garuk yang dapat menyebabkan infeksi, biarkan agar seluruh macula keluar dengan sendirinya dan pecah dengan sendirinya pula.
             Jangan lupa berikan vaksin kepada buah hati  anda pada usia 5 tahun atau ketika anak baru memasuki pendidikan Taman Kanak-kanak, dan bagi orang dewasa jangan lupa menjaga kebersihan diri agar tidak terserang virus varicella tersebut.

3.TOKSOPLASMA
1.      Dianjurkan untuk memeriksakan diri secara berkala pada wanita hamil trimester pertama akan kemungkinan terinfeksi dengan toxoplasmosis.
2.      Bagi wanita yang mengindap toxoplasmosis sebaiknya tidak hamil dahulu sampai sembuh atau virus dalam keadaan istirahat.
3.      Ibu hamil sebaiknya menghindari kontak langsung deng kucing.
4.      Gunakanlah iradiasi daging atau memasak daging pada suhu 1500F (660C) sebelum dimakan.



DAFTAR PUSTAKA

Fadlun, Feryanto Achmad. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Salemba Medika ; Jakarta.
Ai Yeyeh Rukiyah, Lia Yulianti 2010. Asuhan Kebidanan IV (patologi kebidanan). Penerbit buku kesehatan’ Jakarta.























KATA PENGANTAR

Segala puji bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami dapat menyelesaikan tugas makalah mengenai Infeksi Yang Menyertai Kehamilan dan Persalinan dengan judul “PENYAKIT YANG MENYERTAI KEHAMILAN” untuk memenuhi tugas mata kuliah Askeb IV yang dibimbing oleh Ibu HERMIN NELI S.ST. dapat kami selesaikan dengan tepat waktu.
Makalah ini berisi tentang hal-hal yang berhubungan dengan asuhan kebidanan IV mengenai infeksi herpes,varisella,dan toksoplasma yang menyertai kehamilan. Setelah mempelajari dan membaca laporan ini penulis berharap agar pembaca dan penggunanya mendapat pengetahuan yang lebih baik, sebagaimana yang tertera dalam tujuan belajar. Hal tersebut karena laporan ini dapat diaplikasikan untuk mengembangkan kompetensi pembaca.
Mengingat proses penulisan laporan ini kami rasakan masih jauh dari sempurna, maka penulis selalu membuka diri untuk menerima bebagai masukan dan kritik sehingga makalah ini kelak menjadi lebih sempurna dan bermanfaat.



Surabaya, 05 Maret  2012



Penulis







i


DAFTAR ISI

KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1
1.1  Latar Belakang............................................................................................... 1
1.2  Rumusan Masalah........................................................................................... 1
1.3  Tujuan       2
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 3
a Definisi............................................................................................ 3
b. Etiologi........................................................................................... 3
c. Patofisiologi.................................................................................... 4
d. Tanda dan Gejala........................................................................... 5
e. Penatalaksanaan Dan Pengobatan.................................................. 7
f. Pencegahan..................................................................................... 8
g. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan Herpes..................... 9
BAB III PENUTUP..................................................................................... 14
a Kesimpulan.................................................................................... 14
b Saran.............................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA            

7 komentar: