BAB I
PENDAHULUAN
1.1 Latar Belakang
Kelangsungan
sebuah bangsa bergantung pada generasi penerusnya, jika generasi penerus itu
baik maka baik juga sebuah bangsa, tapi jika generasi penerusnya tidak baik
maka kehancuran yang akan didapat sebuah bangsa. Herpes genital termasuk
penyakit menular seksual yang ditakuti oleh setiap orang. Angka kejadian
penyakit ini termasuk tinggi di Indonesia. Kelompok resiko yang rentan
terinfeksi tentunya adalah seseorang dengan perilaku yang tidak sehat. Ibu
hamil mempunyai resiko yang besar jika sampai terkena penyakit menular seksual,
tidak hanya pada dirinya tapi jula pada janinnya.
variella
atau yang dikenal juga secara awam sebagai cacar air adalah penyakit infeksi
virus yang disebabkan oleh virus Varicella Zoster. Di Indonesia, penyakit ini
disebut sebagai cacar air karena gelembung atau bisul yang terbentuk pada kulit
apabila pecah mengeluarkan air. Penyakit ini sangat mudah untuk menyebar kepada
orang lain, terutama anak-anak, yang belum pernah terkena varicella sebelumnya.
Penyebaran dari virus Varicella Zoster terjadi melalui udara dan kontak
langsung dengan penderita.
Toxoplasmosis
penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke manusia.
Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama Toxoplasma
gondii. Toxoplasma gondii yaitu suatu parasit intraselluler yang menginfeksi
pada manusia dan hewan. Tboxoplasma gondii termasuk spesies dari kelas sporozoa
(Cocidia), pertama kali ditemukan pada binatang pengerat Ctenodactylus gundi di
Afrika Utara (Tunisia) oleh Nicolle dan Manceaux tahun 1908. Tahun 1928
Toxoplasma gondii ditemukan pada manusia pertama kali oleh Castellani
1.2 Rumusan Masalah
Adapun rumusan masalah yang
didapat dari makalah ini adalah sebagai berikut :
1. Apa definisi
dari Herpes Genetalis,varisella,toksoplasmosis ?
2. Apa saja
etiologi dari Herpes Genitalis,varisella,toksoplasmosis ?
3. Bagaimana
patofisiologi dari Herepes genetalis,varisella,toksoplasmosis ?
4. Apa saja
tanda dan gejala Herpes Genetalis,varisella,toksoplasmosis
5. Bagaimana
penatalaksanaan dan pengobatan dari Herpes Genitalis ?
1.3 Tujuan Penulisan
1. Untuk mengetahui
definisi dari Herpes genetalis,varisella,toksoplasmosis,.
2. Untuk
mengetahui etiologi dari Herpes genetalis,varisella,toksoplasmosis.
3. Untuk
mengetahui patofisiologi dari Herpes Genetalis,varisella,toksoplasmosis.
4. Untuk mengetahui
tanda dan gejala dari Herpes Genetalis,varisella,toksoplasmosis.
5. Untuk
mengetahui penatalaksanaan dan pengobatan dari Herpes Genitalis.
BAB II
PEMBAHASAN
A. DEFINISI
1.HERPES
genitalis adalah infeksi yang menyerang vagina
dan labia ( bibir kemaluan ). Herpes ini paling sering ditularkan selama
aktivitas seksual seseorang yang mempunyai luka herpes aktif. Tidak ada
pengobatan herpes, karena itu penyakit ini menjadi penyakit kambuhan infeksi
pertama kali muncul disebut infeksi primer.
Herpes
genitalis merupakan infeksi pada genital dengan gejala khas berupa vesikel yang
berkelompok dengan dasar eritem bersifat rekuren. Herpes genitalis terjadi pada
alat genital dan sekitarnya (bokong, daerah anal dan paha).
2.VARICELLA
Cacar air
adalah suatu penyakit yang disebabkan oleh infeksi virus varicella zoster yang
mengakibatkan munculnya ruam kulit berupa kumpulan bintik-bintik kecil baik
berbentuk datar maupun menonjol, melepuh serta berkeropeng dan rasa gatal.
Penyakit cacar air merupakan penyakit menular yang bisa ditularkan seseorang
kepada orang lain secara langsung. Cacar air dikenal juga dengan nama lainnya
yaitu varisela dan chickenpox.
3.TOKSOPLAKMOSIS
Toxoplasmosis
merupakan penyakit zoonosis yaitu penyakit pada hewan yang dapat ditularkan ke
manusia. Penyakit ini disebabkan oleh sporozoa yang dikenal dengan nama
Toxoplasmosis gondii, yaitu suatu parasit intraselluler yang banyak terinfeksi
pada manusia dan hewan peliaharaan. Penderita Toxoplasmosis sering tidak
memperlihatkan suatu tanda klinis yang jelas sehingga dalam menentukan
diagnosis penyakit toxoplasmosis sering terabaikan dalam praktik dokter
sehari-hari. Apabila penyakit toxoplasmosis mengenai wanita hamil trismester
ketiga dapat mengakibatkan hidrochephalus, khorioretinitis, tuli atau epilepsi.
B. ETIOLOGI
1.HERPES GENITALIS
Herpes
genitalis disebabkan oleh HSV atau herpes virus hominis (HVH), yang merupakan
anggota dari famili herpesviridae. Adapun tipe-tipe dari HSV :
1. Herpes
simplex virus tipe I : pada umunya menyebabkan lesi atau luka pada sekitar
wajah, bibir, mukosa mulut, dan leher.
2. Herpes
simplex virus tipe II : umumnya menyebabkan lesi pada genital dan sekitarnya
(bokong, daerah anal dan paha).
Sebagian besar kasus herpes
genitalis disebabkan oleh HSV-2, namun tidak menutup kemungkinan HSV-1
menyebabkan kelainan yang sama.
Pada umumnya
disebabkan oleh HSV-2 yang penularannya secara utama melalui vaginal atau anal
seks. Beberapa tahun ini, HSV-1 telah lebih sering juga menyebabkan herpes
genital. HSV-1 genital menyebar lewat oral seks yang memiliki cold sore pada
mulut atau bibir, tetapi beberapa kasus dihasilkan dari vaginal atau anal seks.
2.VARICELLA
Penyebab dari penyakit cacar air
adalah infeksi suatu virus yang bernama virus varicella zoster yang disebarkan
manusia melalui cairan percikan ludah maupun dari cairan yang berasal dari
lepuhan kulit orang yang menderita penyakit cacar air. Seseorang yang terkena
kontaminasi virus cacar air varicella zoster ini dapat mensukseskan penyebaran
penyakit cacar air kepada orang lain di sekitarnya mulai dari munculnya lepuhan
di kulitnya sampai dengan lepuhan kulit yang terakhir mongering.
3.TOKSOPLASMOSIS
Toxoplasmosis ditemukan oleh Nicelle
dan Manceaux pada tahun 1909 yang menyerang hewan pengerat di Tunisia, Afrika
Utara. Selanjutnya setelah diselidiki maka penyakit yang disebabkan oleh
toxoplasmosis dianggap suatu genus termasuk famili babesiidae.
Toxoplasma gondii adalah parasit
intraseluler pada momocyte dan sel-sel endothelial pada berbagai organ tubuh.
Toxoplasma ini biasanya berbentuk bulat atau oval, jarang ditemukan dalam darah
perifer, tetapi sering ditemukan dalam jumlah besar pada organ-organ tubuh
seperti pada jaringan hati, limpa, sumsum tulang, pam-pam, otak, ginjal, urat
daging, jantung dan urat daging licin lainnya.
C.
PATOFISIOLOGI
1.HERPES
HSV-1 dan
HSV-2 adalah termasuk dalam famili herphesviridae, sebuah grup virus DNA rantai
ganda lipid-enveloped yang berperanan secara luas pada infeksi manusia. Kedua
serotipe HSV dan virus varicella zoster mempunyai hubungan dekat sebagai
subfamili virus alpha-herpesviridae.
Infeksi
HSV-1 biasanya terbatas pada orofaring, virus menyebar melalui droplet
pernapasan, atau melalui kontak langsung dengan saliva yang terinfeksi. HSV-2
biasanya ditularkan secara seksual. Setelah virus masuk ke dalam tubuh hospes,
terjadi penggabungan dengan DNA hospes dan mengadakan multiplikasi serta
menimbulkan kelainan pada kulit.
Waktu itu
pada hospes itu sendiri belum ada antibodi spesifik. Keadaan ini dapat
mengakibatkan timbulnya lesi pada daerah yang luas dengan gejala konstitusi
berat. Selanjutnya virus menjalar melalui serabut saraf sensorik ke ganglion
saraf regional dan berdiam di sana serta bersifat laten. Infeksi orofaring
HSV-1 menimbulkan infeksi laten di ganglia trigeminal, sedangkan infeksi
genital HSV-2 menimbulkan infeksi laten di ganglion sakral.
Faktor
pencetus tersebut antara lain adalah trauma atau koitus, demam, stres fisik
atau emosi, sinar UV, gangguan pencernaan, alergi makanan dan obat-obatan dan
beberapa kasus tidak diketahui dengan jelas penyebabnya. Penularan hampir
selalu melalui hubungan seksul baik genito genital, ano genital maupun oro
genital.
2.VARICELLA
Virus masuk traktus respiratorius
bagian atas dan orofaring, kemudian memperbanyak diri dan mneyebar melalui
aliran darah dan limfe ke jaringan retikulo-endo-telial, di sini memperbanyak
diri lagi dan menyebar ke seluruh tubuh terutama kulit dan mukosa.
3.TOKSOPLASMOSIS
Toxoplasma
gondii adalah parasit protozoa yang merupakan salah satu penyebab kelainan
kongenital yang cukup dominan dibandingkan penyebab lainnya yang tergolong
dalam TORCH. Hospes primernya adalah kucing. Kucing ini telah mempunyai
imunitas, tetapi pada saat reinfeksi mereka dapat menyebarkan kembali sejumlah
kecil ookista. Ookista ini dapat menginfeksi manusia dengan cara memakan
daging, buah-buahan, atau sayuran yang terkontaminasi atau karena kontak dengan
faeces kucing. Dalam sel–sel jaringan tubuh manusia, akan terjadi proliferasi
trophozoit sehingga sel–sel tersebut akan membesar.
Trophozoit
akan berkembang dan terbentuk satu kista dalam sel, yang di dalamnya terdapat
merozoit. Kista biasanya didapatkan di jaringan otak, retina, hati, dan
lain-lain yang dapat menyebabkan kelainan pada organ-organ tersebut, seperti
microcephali, cerebral kalsifikasi, chorioretinitis, dll. Kista toksoplasma
ditemukan dalam daging babi atau daging kambing. Sementara itu, sangat jarang
pada daging sapi atau daging ayam. Kista toksoplasma yang berada dalam daging
dapat dihancurkan dengan pembekuan atau dimasak sampai dagingnya berubah warna.
Buah atau sayuran yang tidak dicuci juga dapat menstranmisikan parasit yang
dapat dihancurkan dengan pembekuan atau pendidihan. Infeksi T.gondii biasanya
tanpa gejala dan berlalu begitu saja. Setelah masa inkubasi selama lebih kurang
9 hari, muncul gejala flu seperti lelah, sakit kepala, dan demam yang dapat
muncul hampir bersamaan dengan limpadenopati, terutama di daerah serviks posterior.
D. TANDA DAN GEJALA
1.HERPES
Infeksi awal
dari 63% HSV-2 dan 37% HSV-1 adalah asimptomatik. Simptom dari infeksi awal
(saat inisial episode berlangsung pada saat infeksi awal) simptom khas muncul
antara 3 hingga 9 hari setelah infeksi, meskipun infeksi asimptomatik
berlangsung perlahan dalam tahun pertama setelah diagnosa di lakukan pada sekitar
15% kasus HSV-2. Inisial episode yang juga merupakan infeksi primer dapat
berlangsung menjadi lebih berat. Infeksi HSV-1 dan HSV-2 agak susah dibedakan.
Gejala dari
herpes disebut juga outbreaks, muncul
dalam dua minggu setelah orang terinfeksi dan dapat saja berlangsung untuk
beberapa minggu. Adapun gejalanya sebagai berikut :
· Nyeri dan disuria
· Uretral dan vaginal discharge
· Gejala sistemik (malaise, demam, mialgia, sakit kepala)
· Limfadenopati yang nyeri pada daerah inguinal
· Nyeri pada rektum, tenesmus
Tanda (sign)
:
· Eritem, vesikel, pustul, ulserasi multipel, erosi, lesi dengan krusta
tergantung pada tingkat infeksi.
· Limfadenopati inguinal
· Faringitis
· Cervisitis
2.VARISELLA
Adapun tanda terserangnya penyakit cacar air yang disebabkan oleh virus
Varicella, yaitu sebagai berikut :
·
Pada awal
terinfeksi virus tersebut, pasien akan menderita rasa sakit seperti terbakar
dan kulit menjadi sensitif selama beberapa hari hingga satu minggu
·
Setelah dua
atau tiga hari kemudian akan mulai muncul bintek merah datar yang disebut
macula, lalu menjadi menonjol yang disebut papula, kemudian muncul cairan
didalamnya seperti melepuh disertai rasa gatal yang disebut vesikel, dan yang
terakhir adalah mengering sendiri. Lama proses mulai dari macula, papula,
vesikel dan kropeng membutuhkan waktu kurang lebih 6 sampai 8 jam. Proses
berulang-ulang ini akan berlangsung selama empat hari.
·
Pada hari ke
lima biasanya tidak ada kemunculan lepuhan baru di kulit.
·
Pada hari ke
enam semua lepuhan yang tadinya muncul akan kering dengan sendirinya dan
akhirnya hilang setelah kurang lebih sekitar 20 hari.
·
Setelah 10
sampai 21 hari setelah terkena infeksi virus cacar air muncul gejala penyakit
seperti sakit kepala, demam sedang dan juga rasa tidak enak badan. Pada anak di
bawah umur 10 tahun biasanya tidak muncul gejala, sedangkan pada orang dewasa
bisa lebih parah gejalanya.
Pada anak-anak yang terkena cacar air biasanya tidak mengalami kesulitan yang
berarti untuk bisa cepat sembuh, namun pada orang dewasa dan juga orang yang
mengalami gangguan kekebalan tubuh dari penyakit, maka penyakit cacar air bisa
berakibat buruk dan bahkan fatal. Komplikasi penyakit yang dapat terjadi akibat
cacar air adalah seperti :
-
Pnemounia
yang diakibatkan virus lain
-
Ensefalitis
atau infeksi pada otak
-
Peradangan
pada jantung
-
Peradangan
pada sendi
-
Peradangan
pada hati
3.TOKSOPLASMOSIS
Tanda-tanda
yang terkait dengan toksoplasmosis yaitu (Medows, 2005):
1.
Toxoplasma
pada orang yang imunokompeten
Hanya 10-20% dari infeksi
toksoplasma pada orang imunokompeten dikaitkan dengan tanda-tanda penyakit.
Biasanya, pembengkakan kelenjar getah bening (sering di leher). Gejala lain
bisa termasuk demam, malaise, keringat malam, nyeri otot, ruam makulopapular
dan sakit tenggorokan.
2.
Toxoplasmosis
pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah
Toxoplasmosis
pada orang dengan sistem kekebalan yang lemah misalnya, pasien dengan AIDS dan
kanker. Pada pasien ini, infeksi mungkin melibatkan otak dan sistem syaraf,
menyebabkan ensefalitis dengan gejala termasuk demam, sakit kepala,
kejang-kejang dan masalah penglihatan, ucapan, gerakan atau pemikiran.
manifestasi lain dari penyakit ini termasuk penyakit paru-paru, menyebabkan
demam, batuk atau sesak nafas dan miokarditis dapat menyebabkan gejala penyakit
jantung, dan aritmia.
3.
Toxoplasma
Okular
Toksoplasmosis
okular oleh uveitis, sering unilateral, dapat dilihat pada remaja dan dewasa
muda, sindrom ini sering merupakan akibat dari infeksi kongenital tanpa gejala
atau menunda hasil infeksi postnatal. Infeksi diperoleh pada saat atau sebelum
kehamilan sehingga menyebabkan bayi toksoplasmosis bawaan. Banyak bayi yang
terinfeksi tidak menunjukkan gejala saat lahir, namun sebagian besar akan
mengembangkan pembelajaran dan visual cacat atau bahkan yang parah, infeksi
yang mengancam jiwa di masa depan, jika tidak ditangani.
4.
Toksoplasmosis
pada wanita hamil
Kebanyakan
wanita yang terinfeksi selama kehamilan tidak menunjukkan tanda-tanda penyakit.
Hanya wanita tanpa infeksi sebelumnya dapat menularkan infeksi ke janin.
Kemungkinan penyakit toksoplasmosis bawaan terjadi ketika bayi baru lahir,
tergantung pada tahap kehamilan saat infeksi ibu terjadi. Pada kondisi
tertentu, infeksi pada wanita selama kehamilan menyebabkan abortus spontan,
lahir mati, dan kelahiran prematur. Aborsi dan stillbirths juga dapat
dipertimbangkan, terutama bila infeksi terjadi pada trimester pertama. Tanda
dan gejalanya yaitu penglihatan kabur, rasa sakit, fotofobia, dan kehilangan
sebagian atau seluruh keseimbangan tubuh.
5.
Toxoplasmosis
congenital
Bayi yang
terinfeksi selama kehamilan trimester pertama atau kedua yang paling mungkin
untuk menunjukkan gejala parah setelah lahir. Tanda-tandanya yaitu demam,
pembengkakan kelenjar getah bening, sakit kuning (menguningnya kulit dan mata),
sebuah kepala yang sangat besar atau bahkan sangat kecil, ruam, memar,
pendarahan, anemia, dan pembesaran hati atau limpa. Mereka yang terinfeksi
selama trimester terakhir biasanya tidak menunjukkan tanda-tanda infeksi pada
kelahiran, tetapi mungkin menunjukkan tanda-tanda toksoplasmosis okular atau
penundaan perkembangan di kemudian hari.
E. PENATALAKSANAAN DAN PENGOBATAN
1.HERPES
GENETALIS
Pada
penderita penyakit cacar hal yang terpenting adalah menjaga gelembung cairan
tidak pecah agar tidak meninggalkan bekas dan menjadi jalan masuk bagi kuman
lain (infeksi sekunder), antara lain dengan pemberian bedak talek yang membantu
melicinkan kulit. Penderita apabila tidak tahan dengan kondisi hawa dingin
dianjurkan untuk tidak mandi, karena bisa menimbulkan shock.
Hal ini akan
mengurangi resiko menularnya herpes pada partner seksual. Obat-obatan untuk
menangani herpes genital adalah :
Ø
Asiklovir (Zovirus)
Pada infeksi HVS genitalis
primer, asiklovir intravena (5 mg/kg BB/8 jam selama 5 hari), asiklovir oral
200 mg (5 kali/hari saelama 10-14 hari) dan asiklovir topikal (5% dalam salf
propilen glikol) dsapat mengurangi lamanya gejala dan ekskresi virus serta
mempercepat penyembuhan.
Ø
Valasiklovir (Valtres)
Valasiklovir adalah suatu
ester dari asiklovir yang secara cepat dan hampir lengkap berubah menjadi
asiklovir oleh enzim hepar dan meningkatkan bioavaibilitas asiklovir sampai
54%.oleh karena itu dosis oral 1000 mg valasiklovir menghasilkan kadar obat
dalam darah yang sama dengan asiklovir intravena. Valasiklovir 1000 mg telah
dibandingkan asiklovir 200 mg 5 kali sehari selama 10 hari untuk terapi herpes
genitalis episode awal.
Ø
Famsiklovir
Adalah jenis pensiklovir,
suatu analog nukleosida yang efektif menghambat replikasi HSV-1 dan HSV-2. Sama
dengan asiklovir, pensiklovir memerlukan timidin kinase virus untuk fosforilase
menjadi monofosfat dan sering terjadi resistensi silang dengan asiklovir. Waktu
paruh intrasel pensiklovir lebih panjang daripada asiklovir (>10 jam)
sehingga memiliki potensi pemberian dosis satu kali sehari. Absorbsi peroral
70% dan dimetabolisme dengan cepat menjadi pensiklovir. Obat ini di metabolisme
dengan baik.
2.VARISELLA
Sebenarnya
penyakit cacar air dapat sembuh sendiri tanpa pemberian pengobatan apapun.
Pemberian terapi bersifat supotif sesuai dengan gejala yang dialami oleh
penderita. Contohnya apabila pasien demam diberikan obat penurun demam.
Anti-virus juga diberikan. Menurut beberapa penelitian, pemberian anti-virus
dapat mempercepat penyembuhan, mencegah perkembangbiakan dari virus, dan
mengurangi gejala yang dialami penderita. Antibiotik juga diberikan untuk
mencegah infeksi sekunder yang masuk melalui kulit yang sedang terluka.
Penderita cacar air dapat mandi seperti biasa tetapi harus berhati-hati agar
tidak memecahkan bisul karena dapat menjadi sumber infeksi sekunder.
Untuk
pengobatan dari herpes zoster perlu diberikan obat-obatan anti nyeri karena
nyeri pada penyakit ini sering mengganggu. Selain itu juga dapat diberikan
anti-virus terutama pada orang-orang dengan imunitas atau kekebalan tubuh yang
rendah. Anti-virus bermanfaat untuk mempercepat penyembuhan, mencegah
perkembangbiakan virus, mengurangi gejala yang dialami penderita, dan
mengurangi resiko tejadinya nyeri setelah herpes. Untuk mengurangi peradangan
yang disebabkan oleh virus ini, dapat juga menggunakan steroid.
3.TOKSOPLASMOSIS
Indikasi infeksi pada janin bisa
diketahui dari pemeriksaan USG, yaitu terdapat cairan berlebihan pada perut
(asites), perkapuran pada otak atau pelebaran saluran cairan otak (ventrikel).
Sebaliknya bisa saja sampai lahir tidak menampakkan gejala apapun, namun
kemudian terjadi retinitis (radang retina mata), penambahan cairan otak
(hidrosefalus), atau perkapuran pada otak dan hati. Pemeriksaan awal bisa
dilakukan dengan pengambilan jaringan (biopsi) dan pemeriksaan serum
(serologis). Umumnya cara kedua yang sering dilakukan. Pada pemeriksaan
serologi akan dilakukan pemeriksaan untuk mengetahui adanya reaksi imun dalam
darah, dengan cara mendeteksi adanya IgG (imunoglobulin G), IgM, IgA, IgE.
Pemeriksaan IgM untuk ini mengetahui infeksi baru. Setelah IgM meningkat, maka
seseorang akan memberikan reaksi imun berupa peningkatan IgG yang kemudian
menetap. IgA merupakan reaksi yang lebih spesifik untuk mengetahui adanya
serangan infeksi baru, terlebih setelah kini diketahui lgM dapat menetap
bertahun-tahun, meskipun hanya sebagian kecil kasus.
Sebenarnya sebagian besar orang
telah terinfeksi parasit toksoplasma ini. Namun sebagian besar diantara
nya telah membentuk kekebalan tubuh sehingga tidak
berkembang, dan parasit terbungkus dalam kista yang terbentuk dari kerak
perkapuran (kalsifikasi). Sehingga wanita hamil yang telah memiliki lgM negatif
dan lgG positif berarti telah memiliki kekebalan dan tidak perlu khawatir
terinfeksi. Sebaliknya yang memiliki lgM dan lgG negatif harus melakukan
pemeriksaan secara kontinyu setiap 3 bulan untuk mengetahui secara dini bila terjadi
infeksi.
F. PENCEGAHAN
1.HERPES
Apabila ibu
hamil terinfeksi virus ini, agar bayi tidak terinfeksi sebaiknya dilakukan
operasi sesar, pencegahan lainnya dengan cara menjaga kebersihan perseorangan
dan pendidikan kesehatan terutama kontak dengan bahan infeksius, menggunakan
kondom dalam aktifitas seksual, dan penggunaan sarung tangan dalam menangani
lesi infeksius.
Untuk
mencegah transmisi dari ibu ke janin, yaitu meliputi :
1) Pengobatan
supresi pada serangan satu dalam kehamilan.
2) Rutin
pemberian antivirus pada kehamilandengan riwayat infeksi HSV.
3) Pemeriksaan
serologi (darah) pada yang berisiko terkena infeksi HSV.
4) Pakaian
bekas pakai ibu yang terinfeksi virus ini harus dicuci secara Desinfeksi
Tingkat Tinggi (DTT) dengan direndam klorin kemudian di rendam air mendidih
agar virus mati.
2.VARISELLA
Untuk
pencegahan penyakit ini dapat dilakukan pemberian vaksinasi. Vaksin varicella sudah
dapat diberikan sejak anak berusia 12 bulan. Sebaiknya vaksin ini diberikan
sebelum anak mulai masuk sekolah. Apabila vaksin ini diberikan setelah anak
berusia 12 tahun, maka vaksin perlu diberikan 2 kali dengan jarak minimal
antara pemberian pertama dan kedua selama 4 minggu. Berdasarkan penelitian,
vaksin varicella dapat memberikan perlindungan hingga 20 tahun seteleh
divaksinasi. Di Indonesia sendiri, vaksin ini belum menjadi salah satu vaksin
yang disubsidi oleh pemerintah.
Pemberian vaksin efektif melindungi 80-85% terhadap penyakit varicella dan
efektif 95% mencegah varicella yang berat. Akan tetapi, sekitar 15-20% anak
sehat yang diberikan vaksin ini tetap terkena varicella. Jenis varicella yang
dialami jenis yang ringan di mana tidak ditemukan adanya demam, bisul pada
kulit yang lebih sedikit, dan keluhan lain juga lebih ringan. Selain itu,
varicella pada anak yang sudah divaksinansi juga jarang menular kepada orang
lain yang belum terkena varicella.
Untuk mencegah tejadinya infeksi bakteri serta
komplikasi akibat serangan cacar air bisa dilakukan beberapa usaha berikut ini,
antara lain :
-
Menjaga
kebersihan tangan dengan rajin mencuci tangan dengan sabun
-
Memotong
kuku yang panjang dan mengikir kuku yang tajam
-
Sering mandi
atau mencuci kulit dengan sabun anti kuman
-
Memakai
pakaian yang telah dicuci bersih dan kering serta nyaman dipakai
-
Sering
mengganti pakaian jika sudah dirasa kotor atau tidak nyaman
3.TOKSOPLASMOSIS
Terdapat beberapa pencegahan yang
dapat dilakukan untuk menghindari penyakit toksoplasmosis, antara lain (Chin,
2000):
1.
Mendidik ibu
hamil tentang langkah-langkah pencegahan:
a.
Gunakan
iradiasi daging atau memasak daging pada suhu 150°F (66°C) sebelum dimakan.
Pembekuan daging tidak efektif untuk menghilangkan Toxoplasma gondii.
b.
Ibu hamil
sebaiknya menghindari pembersihan sampah panci dan kontak dengan kucing.
Memakai sarung tangan saat berkebun dan mencuci tangan setelah kerja dan
sebelum makan.
2.
Makanan
kucing sebaiknya kering, kalengan atau rebus dan mencegah kucing tersebut
berburu (menjaga mereka sebagai hewan peliharaan dalam ruangan).
3.
Menghilangkan
feses kucing (sebelum sporocyst menjadi infektif). Feses kucing dapat dibakar
atau dikubur. Mencuci tangan dengan bersih setelah memegang material yang
berpotensial terdapat Toxoplasma gondii.
4.
Cuci tangan
sebelum makan dan setelah menangani daging mentah atau setelah kontak dengan
tanah yang mungkin terkontaminasi kotoran kucing.
5.
Control
kucing liar dan mencegah mereka kontak dengan pasir yang digunakan anak-anak
untuk bermain.
6.
Penderita
AIDS yang telah toxoplasmosis dengan gejala yang parah harus menerima
pengobatan profilaksis sepanjang hidup dengan pirimetamin, sulfadiazine dan
asam folinic.
BAB III
PENUTUP
A. KESIMPULAN
1.HERPES
Herpes
genitalis adalah infeksi yang menyerang vagina dan labia ( bibir kemaluan ).
Herpes ini paling sering ditularkan selama aktivitas seksual seseorang yang
mempunyai luka herpes aktif. Tidak ada pengobatan herpes, karena itu penyakit
ini menjadi penyakit kambuhan infeksi pertama kali muncul disebut infeksi
primer.
Herpes
genitalis disebabkan oleh HSV atau herpes virus hominis (HVH), yang merupakan
anggota dari famili herpesviridae. Adapun tipe-tipe dari HSV :
1. Herpes
simplex virus tipe I : pada umunya menyebabkan lesi atau luka pada sekitar
wajah, bibir, mukosa mulut, dan leher.
2. Herpes
simplex virus tipe II : umumnya menyebabkan lesi pada genital dan sekitarnya
(bokong, daerah anal dan paha).
2.VARISELLA
Penyakit yang disebabkan oleh
infeksi virus varicella zoster ini pada dasarnya menyerang kepada tubuh orang
yang belum pernah terserang oleh virus tersebut, namun apabila tubuh orang
tersebut pernah terinfeksi virus varicella zoster maka tubuh orang tersebut
akan membentuk anti body terhadap virus varicella zoster sehingga dimasa
mendatang tidak akan terserang penyakit tersebut lagi, namun jika kekebalan tubuh
orang tersebut sedang tidak baik dan ketika pengobatan tidak tuntas maka virus
tersebut dapat hidup kembali dalam tubuh penderitanya.
Menjaga kebersihan tubuh juga sangat dianjurkan sebagai pencegahan terhadap
virus tersebut seperti menjaga kebersihan tangan, memotong kuku dan mandi dan
berganti pakain, Pemberian vaksin efektif melindungi 80-85% terhadap penyakit
varicella dan efektif 95% mencegah varicella yang berat.
3.TOKSOLASMOSIS
Penyakit toxoplasmosis merupakan
penyakit kosmopolitan dengan frekuensi tinggi di berbagai negara juga di
Indonesia karena gejala klinisnya ringan maka sering kali Input dari pengamatan
dokter. Padahal akibat yang ditimbulkannya memberikan beban berat bagi
masyarakat seperti abortus, lahir mati maupun cacat kongenital. Diagnosis
secara laboratoris cukup mudah yaitu dengan memeriksa antibodi kelas IgG dan
IgM terhadap toxoplasma gondii akan dapat diketahui status penyakit penderita.
B. SARAN
1.HERPES
Infeksi
herpes simpleks genitalis memberi dampak cukup luas khususnya pada wanita,
karena virus ini berhubungan dengan penyebaran kanker serviks dan menyebabkan
abortus ataupun penularan kepada bayi apabila menyerang ibu hamil. Oleh karena
itu, perlu penanganan secara koprehensif. Masalah yang ditemukan tidak hanya
terbatas pada cara diagnostik tetapi
juga pada penanganan kasus dan komplikasi yang ditimbulkan.
Untuk
mengontrol penyebaran infeksinya pun juga harus ada kerjasama yang baik antara
pasien dengan perawat ataupun dokternya.
2.VARISELLA
Dikarenakan
virus ini lebih banyak menyerang anak-anak, sebaiknya bagi ibu-ibu jangan panik
terlebih dahulu apabila buah hatinya mengalami gejala terserang infeksi virus
varicella, berikan pertolongan kepada anak dengan melakukan kompres dingin pada
kulit yang terkena agar rasa gatal berkurang dan mengurangi garuk-garuk yang
dapat menyebabkan infeksi, biarkan agar seluruh macula keluar dengan sendirinya
dan pecah dengan sendirinya pula.
Jangan lupa berikan vaksin kepada buah hati anda pada usia 5 tahun atau
ketika anak baru memasuki pendidikan Taman Kanak-kanak, dan bagi orang dewasa
jangan lupa menjaga kebersihan diri agar tidak terserang virus varicella
tersebut.
3.TOKSOPLASMA
1.
Dianjurkan
untuk memeriksakan diri secara berkala pada wanita hamil trimester pertama akan
kemungkinan terinfeksi dengan toxoplasmosis.
2.
Bagi wanita
yang mengindap toxoplasmosis sebaiknya tidak hamil dahulu sampai sembuh atau
virus dalam keadaan istirahat.
3.
Ibu hamil
sebaiknya menghindari kontak langsung deng kucing.
4.
Gunakanlah
iradiasi daging atau memasak daging pada suhu 1500F (660C) sebelum dimakan.
DAFTAR
PUSTAKA
Fadlun, Feryanto Achmad. 2011. Asuhan Kebidanan Patologis. Salemba Medika ;
Jakarta.
Ai Yeyeh Rukiyah, Lia Yulianti 2010. Asuhan Kebidanan IV (patologi
kebidanan). Penerbit buku kesehatan’ Jakarta.
http://keluargacemara.com/kesehatan/kehamilan/infeksi-kehamilan-karena-toxoplasma.html#ixzz1pe3XIgdB
KATA
PENGANTAR
Segala puji
bagi Allah SWT, Tuhan semesta alam atas rahmat dan hidayah-Nya sehingga kami
dapat menyelesaikan tugas makalah mengenai Infeksi Yang Menyertai Kehamilan dan
Persalinan dengan judul “PENYAKIT YANG MENYERTAI KEHAMILAN” untuk memenuhi tugas mata kuliah Askeb IV yang dibimbing oleh Ibu HERMIN NELI
S.ST. dapat kami selesaikan dengan tepat waktu.
Makalah ini
berisi tentang hal-hal yang berhubungan dengan asuhan kebidanan IV mengenai
infeksi herpes,varisella,dan toksoplasma yang menyertai kehamilan. Setelah mempelajari dan membaca laporan ini
penulis berharap agar pembaca dan penggunanya mendapat pengetahuan yang lebih
baik, sebagaimana yang tertera dalam tujuan belajar. Hal tersebut karena
laporan ini dapat diaplikasikan untuk mengembangkan kompetensi pembaca.
Mengingat
proses penulisan laporan ini kami rasakan masih jauh dari sempurna, maka
penulis selalu membuka diri untuk menerima bebagai masukan dan kritik sehingga
makalah ini kelak menjadi lebih sempurna dan bermanfaat.
Surabaya, 05 Maret 2012
Penulis
|
i
|
DAFTAR ISI
KATA PENGANTAR.................................................................................... i
DAFTAR ISI................................................................................................. ii
BAB I PENDAHULUAN............................................................................. 1
1.1 Latar Belakang............................................................................................... 1
1.2 Rumusan Masalah........................................................................................... 1
1.3 Tujuan 2
BAB II PEMBAHASAN.............................................................................. 3
a Definisi............................................................................................ 3
b. Etiologi........................................................................................... 3
c. Patofisiologi.................................................................................... 4
d. Tanda dan Gejala........................................................................... 5
e. Penatalaksanaan Dan Pengobatan.................................................. 7
f. Pencegahan..................................................................................... 8
g. Asuhan Kebidanan Pada Ibu Hamil Dengan Herpes..................... 9
BAB III PENUTUP..................................................................................... 14
a Kesimpulan.................................................................................... 14
b Saran.............................................................................................. 14
DAFTAR PUSTAKA
thnks yahh udah membantu
BalasHapussama-sama and thanks jga sdh mngunjungi blg sya
Hapusbgs materix bu....
BalasHapusmantap bidan cantik
BalasHapusmakasih
BalasHapusPnjng btul mteix
BalasHapusmantap materi say...
BalasHapus