BAB I
PENDAHULUAN
A. Larat Belakang
Sebagai negara yang sedang
berkembang dan sedang membangun, bangsa Indonesia masih memiliki beberapa
ketertinggalan dan kekurangan jika dibandingkan negara lain yang sudah lebih
maju. Di bidang kesehatan, bangsa Indonesia masih harus berjuang memerangi berbagai
macam penyakit infeksi dan kurang gizi yang saling berinteraksi satu sama lain
menjadikan tingkat kesehatan masyarakat
Indonesia tidak kunjung meningkat secara signifikan. Di sebagian besar daerah
Indonesia, penyakit infeksi seperti, Infeksi Saluran Pernafasan Akut (ISPA),
diare, dan campak masih merupakan penyakit utama dan masih menjadi penyebab
utama kematian. Tingginya angka kesakitan dan kematian Ibu dan Anak Balita di
Indonesia sangat berkaitan dengan buruknya status gizi. Ironisnya, dibeberapa
daerah lain atau pada sekelompok masyarakat Indonesia yang lain terutama di
kota-kota besar, masalah kesehatan masyarakat utama justru dipicu dengan adanya
kelebihan gizi; meledaknya kejadian obesitas di beberapa daerah di Indonesia
akan mendatangkan masalah baru yang mempunyai konsekuensi-konsekuensi serius
bagi pembangunan bangsa Indonesia khususnya di bidang kesehatan. Pendek kata,
masih tingginya prevalensi kurang gizi di beberapa daerah dan meningkatnya
prevalensi obesitas yang dramatis di beberapa daerah yang lain akan menambah
beban yang lebih komplek dan harus dibayar mahal oleh bangsa Indonesia dalam
upaya pembangunan bidang kesehatan, sumber daya manusia dan ekonomi .
B. Tujuan
Dengan disusunnya makalah ini, kami
dapat menuangkan apa pun yang berhubungan dengan bahan diskusi, sehingga
makalah ini dapat berguna bagi pembaca.
Adapun
tujuan penulisan makalah ini adalah :
· Sebagai tugas mata kuliah Gizi
· Menjelaskan tentang Masalah Gizi di
Indonesia dan Masalah Gizi pada Bayi
· Sebagai pengetahuan para pembaca
· Sebagai informasi untuk para pembaca
C. Ruang Lingkup
Dalam
makalah ini diuraikan dan dijelaskan mengenai “Masalah Gizi di Indonesia dan
Masalah Gizi pada Bayi”. Selain itu, diterangkan pula faktor-faktor dan
penyebab dari masalah gizi tersebut Serta beberapa hal mengenai gizi yang
terdapat dalam makalah ini.
BAB II
PEMBAHASAN
A. Definisi Gizi
Gizi adalah suatu proses organisme menggunakan makanan yang
dikonsumsi secara normal melalui proses digesti, absorpsi, transportasi, penyimpanan
metabolism dan pengeluaran zat-zat yang tidak digunakan untuk mempertahankan
kehidupan, pertumbuhan dan fungsi normal dari organ-organ serta menghasilkan
energi, (Supriadi dkk, 2001)
B. Masalah Gizi Utama di Indonesia
Sampai saat ini di Indonesia ada lima masalah gizi utama
yaitu Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A
(KVA) , Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) dan Obesitas. Energi dan
protein merupakan zat gizi makro, sedangkan zat besi, vitamin A dan Iodium merupakan
zat gizi mikro. Pada tulisan ini akan dibahas masalah gizi mikro yang utama
terjadi di Indonesia. Zat gizi mikro merupakan zat gizi yang dibutuhkan oleh
tubuh dalam jumlah sedikit, namun esensial untuk tubuh. Kekurangan salah satu
zat ini akan mempengaruhi pertumbuhan dan perkembangan anak dan dampaknya tidak
akan dapat diperbaiki pada tahapan kehidupan selanjutnya
C. Anemia Gizi Besi (AGB)
Anemia sangat umum dijumpai di Indonesia, prevalensinya
masih sangat tinggi pada kelompok-kelompok tertentu. Anemia didefinisikan
sebagai suatu keadaan kadar hemoglobin didalam darah lebih rendah dari nilai
normal untuk kelompok orang yang bersangkutan. Menurut WHO (1996), anak umur 6
bulan – 5 tahun dikatakan anemia jika mempunyai kadar hemoglobin darah kurang 110
g/L.
a) Prevalensi Anemia Gizi Besi
Organisasi kesehatan dunia (WHO)
memperkirakan sekitar 40% dari penduduk di dunia (lebih dari 2 milyar jiwa)
terkena anemia. Kelompok yang paling tinggi prevalensinya adalah wanita hamil
dan orang tua yaitu sekitar 50%, bayi dan anak sampai umur 2 tahun 48%, anak
sekolah 40%, wanita tidak hamil 35%, adolescent 30-55%, dan anak prasekolah
25%. Prevalensi anemia di negara-negara berkembang sekitar empat kali lebih
besar dibandingkan dengan negara-negara maju. Diperkirakan prevalensi anemia
untuk anak sekolah di negara berkembang dan maju adalah 53% dan 9%, anak
prasekolah 42% dan 17% (Allen and Gillespie, 2001). Prevalensi AGB di Indonesia
pada satu tahun pertama kehidupan masih diatas 60%, walaupun angkanya menurun
sejalan dengan bertambahnya usia anak, namun prevalensinya masih tinggi yaitu
32.1 % pada anak usia 48-59 bulan. Menurut WHO anemia dikatakan menjadi masalah
kesehatan masyarakat jika prevalensi di suatu negara yaitu < 15% adalah
rendah, 15-40% adalah sedang dan >40% adalah tinggi (Direktorat Gizi
Mayarakat, 2003)
b) Penyebab Anemia Gizi Besi
Umur sel darah merah sekitar 120
hari, sumsum tulang akan mengganti sel darah merah yang tua dengan membuat sel
darah merah yang baru. Kemampuan membuat sel darah merah baru sama cepatnya
dengan banyaknya sel darah merah tua yang hilang, sehingga jumlah sel darah
merah selalu dipertahankan cukup banyak didalam darah. Penyebab AGB utama yang
terjadi terutama di negara-negara yang sedang berkembang adalah penyerapan zat
besi. Sumber terbaik dari besi adalah makanan yang berasal dari daging, ikan
dan telur, namun konsumsinya rendah pada masyarakat yang berpenghasilan rendah.
Jumlah zat besi yang diserap dari makanan hewani adalah sekitar 25%,
sedangkanjumlah besi yang diserap dari biji-bijian dan kacang-kacangan hanya
2-5%. Faktor risiko terjadi anemia adalah pada bayi yang lahir premature atau
kekurangan zat besi pada masa kehamilan. Bayi yang lahir dengan berat badan
yang rendah mempunyai simpanan zat besi yang rendah, yang akan habis pada umur
2-3 bulan.Sehingga diperlukan suplementasi zat besi ketika mereka berumur 2
bulan. Suatu studi perbandingan yang dilakukan di Honduras dan Swedia pada bayi
umur 6 bulan yang diberi ASI eksklusif menunjukkan bahwa konsentrasi ferritin
(yang menunjukkan cadangan zat besi) dari bayi-bayi di Honduras setengah dari
bayi di Swedia. Hal ini menggambarkan rendahnya akumulasi dari zat besi ketika
masih didalam kandungan. Pada anak-anak, AGB diperberat keadaannya oleh
infestasi cacing tambang. Cacing tambang menempel pada dinding usus dan memakan
darah. Akibat gigitannya sebagian darah hilang dan dikeluarkan dari badan
bersama tinja. Setiap hari diperkirakan satu ekor cacing tambang memakan 0.03 –
0.15 ml darah, jika didalam tubuh terdapat 100 ekor cacing tambang, akan
menyababkan kehilangan darah sekitar 3 – 15 ml per hari.
c) Konsekuensi dari Anemia Gizi Besi
Gejala dari kekurangan zat besi pada
individu tidak spesifik. Kekurangan zat besi pada tingkat sedang biasanya
didiagnosis dari penilaian di laboratorium. Kekurangan zat besi pada tingkat
berat sama dengan jenis anemia lainnya yaitu mudah capek, nafsu makan menurun,
atau terlihat pucat. Konsekuensi dari AGB adalah menurunnya produktifitas pada
orang dewasa dan pada anak-anak terhadap perkembangan mentalnya. Ulasan dari
berbagai hasil penelitian menunjukkan anak balita yang menderita AGB mempunyai
skor mental dan motor pada uji Bayley lebih rendah dari anak yang tidak
menderita AGB. Setelah disuplementasi dengan zat besi terdapat kenaikan skor
mental dan motor yang cukup berarti. Pada anak prasekolah (usia 3-6 tahun) yang
menderita AGB menyebabkan pemusatan perhatian dan proses belajar rendah.
Setelah disuplementasi dengan zat besi anak yang AGB pemusatan perhatian dan
proses belajarnya menjadi lebih baik Penelitian yang dilakukan pada binatang
menunjukkan bahwa AGB mempengaruhi isi dan distribusi besi otak dan menyebabkan
perubahan prilaku. Walaupun penelitian pada binatang dapat misleading, namun
berbagai penelitian secara konsisten menunjukkan bayi yang menderita AGB
terlambat perkembangan psikomotornya, terutama pada kemampuan berbicara dan
keseimbangan tubuh. Pada bayi-bayi ini suplementasi zat besi tidak cukup untuk
mengembalikan pengaruh negatif akibat kekurangan zat besi, walaupun kadar
hematologi darah sudah kembali normal. Hal ini menunjukkan dampak dari AGB pada
masa bayi mungkin berhubungan dengan kemampuan kognitif pada masa-masa selanjutnya.
D. Kurang Vitamin A (KVA)
Vitamin A dibutuhkan untuk memelihara fungsi penglihatan, pertumbuhan,
reproduksi, perkembangan tulang, kekebalan, mengurangi kesakitan dan kematian
anak. Tanda-tanda klinis dari kekurangan vitamin A adalah rabun senja, bintik
Bitot, dan xeropthalmia.
1. Prevalensi kurang vitamin A
Prevalensi
dari defisiensi klinis diperkirakan dari rabun senja, bintik Bitot, dan
xeropthalmia. Prevalensi klinis KVA di Asia cukup rendah, berkisar antara 0.5%
di Srilangka sampai 4.6% di Bangladesh pada anak-anak (Allen and Gillespie,
2001). Prevalensi lebih dari 1% dianggap menjadi masalah kesehatan masyarakat.
Di Indonesia prevalensi kekurangan vitamin A pada tahun 1970 adalah berkisar
antara 2-7%, turun menjadi 0.33% pada tahun 1992, dan dinyatakan bebas masalah
xeropthalmia, namun tetap perlu waspada karena 50% balita masih menunjukkan
kadar vitamin dalam serum <20mcg/dl (Direktorat Gizi Mayarakat, 2003). b.
Penyebab kurang vitamin A Faktor-faktor penyebab kekurangan vitamin A yang umum
ditemukan pada anakanak diilustrasikan dalam Tabel. Faktor penyebab dibagi atas
tiga yaitu langsung, tidak langsung dan akar masalah (Unicef 1990 dalam
ACC/SCN, 1994). Penyebab utama kekurangan vitamin A adalah konsumsi makanan
hewani yang banyak mengandung retinol masih rendah. Minyak ikan, hati dan
ginjal, susu merupakan sumber vitamin A. Sedangkan sayur-sayuran yang berwarna
hijau dan buah-buahan berwarna kuning banyak mengandung beta karoten yang
merupakan provitamin A. Betakaroten yang berasal dari buah-buahan dan umbi yang
berwarna kuning, seperti ubi jalar merah lebih mudah diserap dibandingkan dari
sayur-sayuran. Vitamin A merupakan salah satu vitamin A yang larut dalam lemak,
konsumsi lemak yang rendah dapat menyebabkan vitamin A dalam makanan susah
untuk diserap. Konsumsi sayur-sayuran dengan cara ditumis dapat meningkatkan
absorbsi dari vitamin A yang terdapat pada sayur-sayuran. Air susu ibu (ASI)
merupakan sumber utama vitamin A pada bayi. Tabel. Faktor-faktor penyebab
kekurangan vitamin A pada anak-anak. Faktor-faktor Penyebab Penyebab langsung -
Vitamin A dan lemak rendah dalam konsumsi - Kejadian diare dan campak tinggi -
Berat bayi lahir rendah - Kekurangan vitamin A pada ibu - Meneteki dalam waktu
singkat dan pemeberian ASI tidak eksklusif - MP ASI tidak cukup dan cara
pemberian makan tidak benar Penyebab tidak langsung - Infrastruktur kesehatan
yang tidak memadai - Produksi makanan sumber vitamin A rendah - Tidak ada
tanaman pekarangan - Pemasaran/distribusi/penyimpanan makanan sumber vit. A
buruk - Pola pengasuhan anak tidak benar - Distribusi makanan, kesehatan dalam
keluarga salah - Pendidikan dan kesadaran ibu Akar masalah - Kemiskinan -
Sedikit atau tidak ada tanah yang produktif - Pengaruh musim pada penyakit dan
ketersediaan makanan - Pengaruh lingkungan lainnya - Pengaruh social budaya
lainnya - Status wanita - Pengaruh system politik Gejala klinis KVA dari bayi
yang mendapat ASI jarang ditemukan, namun status vitamin A yang tidak baik pada
ibu merupakan faktor risiko mulai terjadinya KVA pada bayi. Pemberian makanan
pendamping ASI (MPASI) yang tidak cukup atau cara pemberian makanan yang salah
dapat menyebabkan kekurangan vitamin A. Penyebab tidak langsung dari kekurangan
vitamin A berpengaruh terhadap kejadian penyebab langsung. Contohnya produksi
makanan vitamin A yang rendah menyebabkan ketersediaan makanan tersebut juga
rendah sehingga konsumsi makanan sumber vitamin A menjadi rendah. Akar masalah
dari kekurangan vitamin A mempengaruhi penyebab langsung dan tidak langsung,
misalnya kemiskinan membuat keluarga tidak dapat membeli makanan sumber vitamin
A dan tidak dapat memproduksi makanan sumber vitamin A.
2. Morbiditas (angka kesakitan).
Hasil-hasil penelitian menunjukkan
pengaruh suplementasi vitamin A pada morbiditas pada populasi yang kekurangan
vitamin A secara sub klinis. Hasil meta analisis menunjukkan suplementasi
vitamin A dosis tinggi mengurangi angka kesakitan diare dan campak 23% untuk
bayi dan anak umur 6 bulan sampai 5 tahun Diare yang parah dapat dikurangi
dengan suplementasi vitamin A dosis rendah pada anak-anak gizi buruk
3. Kekebalan tubuh.
Bukti-bukti menunjukkan suplementasi vitamin A
pada anak-anak dengan nilai serum vitamin A yang rendah dapat meningkatkan
kekebalan tubuh, termasuk respon terhadap vaksinasi.
E. Gangguan Akibat Kekurangan Iodium
(GAKI)
Gangguan akibat
kurang iodium adalah kekurangan gizi paling tua. Di China, antara tahun 2838 –
2698 sebelum masehi gondok endemik sudah diketahui. GAKI mempunyai
bermacam-macam efek yang serius pada kesehatan seperti gondok, kretin, gangguan
perkembangan kognitif dan pertumbuhan yang tidak dapat diperbaiki, kematian
bayi, berat bayi lahir rendah, dan kematian pada saat lahir.
a. Prevalensi Gangguan Akibat
Kekurangan Iodium WHO, UNICEF dan International Coordinating Committee on
Iodine Deficiency Disorders (ICCIDD) mengklasifikasikan dari 191 negara, 68.1 %
dengan masalah GAKI, 10.5% sudah dapat mengatasi masalah GAKI dan sisanya tidak
diketahui masalah besarnya masalah GAKI (Allen and Gillespie, 2001). Prevalensi
secara nasional pada tahun 1980 sekitar 30% menurun menjadi 9.8% pada tahun
1998. Namun prevalensi pada propinsi-propinsi tertentu masih cukup tinggi,
misalnya di NTT 38.1%, Maluku 33.3%, Sulawesi Tenggara 24.9%, dan Sumatra Barat
20.5%. Propinsi NTT dan Maluku dikategorikan mempunyai masalah GAKI yang berat,
Sulawesi Tenggara dan Sumatra Barat dikategorikan mempunyai masalah GAKI
sedang, sedangkan propinsi-propinsi yang lain mempunyai masalah GAKI ringan
atau tidak mempunyai masalah GAKI (Direktorat Gizi Mayarakat, 2003).
b. Penyebab Gangguan Akibat Kekurangan
Iodium Penyebab utama GAKI adalah karena air, makanan yang berasal dari
tumbuhtumbuhan dan binatang pada daerah tertentu sedikit mengandung Iodium.
Iodium yang terdapat pada tanah tersebut tercuci oleh gletsier, banjir atau
hujan. Kekurangan Iodiumdapat disebabkan oleh banjir, sebagai contoh di
sepanjang sungai Gangga di Banglades dan India. Pada daerah ini terjadi
defisiensi kekurangan Iodium yang endemik karena air, tanaman dan binatang yang
hidup disini sedikit mengandung Iodium. Penyebab lain dari kekurangan Iodium
adalah banyak makanan yang dikonsumsi di negara-negara berkembang mengandung
zat goitrogenik yaitu suatu zat yang menghambat penyerapan Iodium oleh tiroid.
Contohnya adalah zat goitrogenik yang terdapat didalam ubi kayu, untuk menghilangkan
zat tersebut ubi kayu harus direndam dahulu di dalam air. Di Sarawak Malaysia,
konsumsi ubi kayu berhubungan dengan kejadian gondok dan kretin. Beberapa zat
gizi diindikasikan berhubungan dengan kekurangan Iodium yaitu Selenium dan
Besi. Selenium merupakan komponen yang penting untuk enzim yang merubah
tiroksin (T3) menjadi triiodotironin (T4), sehingga kekurangan Selenium dan Iodium
dapat menyebabkan gondok.Kekurangan besi dapat menyebabkan kerusakanmetabolisme
hormon tiroid, sehingga orang yang menderita gondok dan anemia kurang responsif
jika diberikan Iodium.
c. Konsekuensi dari Gangguan Akibat Kekurangan
Iodium Beberapa konsekuensi dari kekurangan Iodium adalah kretin, gondok,
kerusakan perkembangan kognitif yang tidak dapat diperbaiki, meningkatkan angka
kesakitan dan kematian.
1. Kretin adalah hasil dari kekurangan
Iodium selama kehamilan, yang mempengaruhi fungsi tiroid janin. Kerusakan otak
janin diperkirakan terjadi ketika kekurangan Iodium pada trisemester I
kehamilan. Ciri-ciri kretin karena kerusakan saraf adalah kemampuan kognitif
yang rendah, tuli, dan ganguan bicara.
2.
Gondok
merupakan pembesaran kelenjar tiroid pada leher. Gondok biasanya tidak
menyakitkan, namun adanya gondok menunjukkan bahwa sedang terjadi kerusakanlain
dari kekurangan Iodium.
3. Kerusakan fungsi kognitif.
Kekurangan Iodium merupakan penyebab nomor satu kerusakan otak dan kemunduran
mental yang sebenarnya dapat dicegah. Masalahnya berkisar dari perubahan saraf
sampai kerusakan fungsi kognitf. Hasil dari meta analisis dari 18 penelitian
yang meliputi 2214 subjek menunjukkan ratarata kognitif dan psikomotor
anak-anak yang kekurangan Iodium lebih redah 13.5 IQ poin dibandingkan anak
yang normal. Masalahnya diperberat dengan lingkungan yang terdiri dari
orang-orang tidak cerdas, apatis, tidak ada motivasi sebagai akibat dari
kekurangan Iodium.
4. Meningkatkan kesakitan dan kematian.
Kekurangan Iodium pada masa hamil berhubungan dengan kejadian bayi lahir mati,
aborsi dan kelainan congenital.
F. Kurang Energi Protein (KEP)
a. Penyebab
Ø Adalah penyakit gizi akibat
defisiensi energi dalam jangka waktu yang cukup lama.
Ø Prevalensi tinggi terjadi pada
balita, ibu hamil (bumil) dan ibu menyusui/meneteki (buteki)
Ø Pada derajat ringan pertumbuhan
kurang, tetapi kelainan biokimiawi dan gejala klinis (marginal malnutrition)
Ø Derajat berat adalah tipe
kwashiorkor dan tipe marasmus atau tiep marasmik-kwashiorkor
Ø Terdapat gangguan pertumbuhan,
muncul gejala klinis dan kelainan biokimiawi yang khas.
Ø Masukan makanan atau kuantitas dan
kualitas rendah
b.
Gejala klinis KEP ringan
Ø Pertumbuhan mengurang atau berhenti
Ø BB berkurang, terhenti bahkan turun
Ø Ukuran lingkar lengan menurun
Ø Maturasi tulang terlambat
Ø Rasio berat terhadap tinggi normal
atau menurun
Ø Tebal lipat kulit normal atau
menurun
c.
Pembagian
1. Marasmus Marasmus adalah
kekurangan energi pada makanan yang menyebabkan cadangan protein tubuh terpakai
sehingga anak menjadi “kurus” dan “emosional”. Sering terjadi pada bayi yang
tidak cukup mendapatkan ASI serta tidak diberi makanan penggantinya, atau
terjadi pada bayi yang sering diare.
a.
Penyebab
Ø Ketidakseimbangan konsumsi zat gizi
atau kalori didalam makanan
Ø Kebiasaan makanan yang tidak layak
Ø Penyakit-penyakit infeksi saluran
pencernaan
b. Tanda dan gejala
Ø Wajah seperti orang tua, terlihat
sangat kurus
Ø Mata besar dan dalam, sinar mata
sayu
Ø Mental cengeng
Ø Feces lunak atau diare
Ø Rambut hitam, tidak mudah dicabut
Ø Jaringan lemak sedikit atau bahkan
tidak ada, lemak subkutan menghilang hingga turgor kulit menghilang
Ø Kulit keriput, dingin, kering dan
mengendur
Ø Torax atau sela iga cekung
2. Kwashiorkor Kwashiokor adalah
penyakit yang disebabkan oleh kekurangan protein dan sering timbul pada usia
1-3 tahun karena pada usia ini kebutuhan protein tinggi.Meski penyebab utama
kwashiorkor adalah kekurangan protein, tetapi karena bahan makanan yang
dikonsumsi kurang menggandung nutrient lain serta konsumsi daerah setempat yang
berlainan, akan terdapat perbedaan gambaran kwashiorkor di berbagai negara.
a. Penyebab
Ø Kekurangan protein dalam makanan
Ø Gangguan penyerapan protein
Ø Kehilangan protein secara tidak
normal
Ø Infeksi kronis
Ø Perdarahan hebat
b. Tanda dan gejala
Ø Wajah seperti bulan “moon face”
Ø Pertumbuhan terganggu
Ø Sinar mata sayu
Ø Lemas-lethargi
Ø Perubahan mental (sering menangis,
pada stadium lanjut menjadi apatis)
a. Secara umum
·
Ruangan
cukup hangat dan bersih
·
Posisi
tubuh diubah-ubah (karena mudah terjadi dekubitus)
·
Pencegahan
infeksi nosokomial
·
Penimbangan
BB tiap hari
b. Secara khusus Resusitasi dan terapi
komplikasi
·
Koreksi
dehidrasi dan asidosis (pemberian cairan oralit atau infus)
·
Mencegah
atau mengobati defisiensi vitamin A
·
Terapi
Ab bila ada tanda infeksi atau sakit berat Dietetik
·
Prinsip
TKTP dan suplemen vitamin mineral
·
Bentuk
makanan disesuaikan secara individual (cair, lunak, biasa, makanan dengan porsi
sedikit-sedikit tapi sering)
G. OBESITAS
Penyakit gizi yang disebabkan kelebihan kalori dan ditandai
dengan akumulasi jaringan lemak secara berlebihan diseluruh tubuh. Merupakan keadaan patologis dengan terdapatnya
penimbunan lemak yang berlebihan dari yang diperlukan untuk fungsi tubuh. Gizi
lebih (over weight) dimana berat badan melebihi berat badan rata-rata, namun
tidak selalu identik dengan obesitas BB >>> tidak selalu obesitas
BAB III
ISI
A. Prinsip Gizi Seimbang pada Bayi
Makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun, dengan
bertambahnya umur bayi dan tumbuh kembang, bayi memerlukan energi dan zat-zat
gizi yang melebihi jumlah ASI. Bayi harus mendapat makanan tambahan/ pendamping
ASI. Banyaknya ASI yang dihasilkan ibu tergantung dari status gizi ibu, makanan
tambahan sewaktu hamil/ menyusui, stress mental dan sebagainya. Dianjurkan
untuk memberi 100-110 Kkal energi tiap kgBB/ hari. Oleh karena itu, susu bayi
mengandung kurang lebih 67 Kkal tiap 100 cc. Maka bayi diberikan 150-160 cc
susu tiap kgBB. Tetapi tidak semua bayi memerlukan jumlah energi tersebut.
B. Macam-Macam Makanan Bayi
Makanan
bayi beraneka ragam macamnya yaitu :
a) ASI ( Air Susu Ibu)
Makanan yang paling baik untuk bayi
segera lahir adalah ASI. ASI mempunyai keunggulan baik ditinjau segi gizi, daya
kekebalan tubuh, psikologi, ekonomi dan sebagainya.
a. Manfaat ASI
1)
Ibu
Aspek kesehatan ibu : isapan bayi
akan merangsang terbentukny oksitosin oleh kelenjar hipofisis. Oksitosin akan
membantu involusi uterus dan mencegah terjadi perdarahan post partum. Penundaan
haid dan berkurangnya perdarahan post partum mengurangi prevalensi anemia zat
besi. Selain itu, mengurangi angka kejadian karsinoma mammae.
Aspek keluarga berencana : merupakan
KB alami, sehingga dapat menjarangkan kehamilan. Menurut penelitian, rerata
jarak kehamilan pada ibu yang menyusui adalah 24 bulan, sedangkan yang tidak 11
bulan.
Aspek psikologis : ibu akan merasa
bangga dan diperlukan oleh bayinya karena dapat menyusui.
2) Bayi
Nutrien (zat gizi) yang sesuai untuk
bayi : mengandung lemak, karbohidrat, protein, garam dan mineral serta vitamin.
Mengandung zat protektif : terdapat zat protektif berupa laktobasilus bifidus,laktoferin, lisozim, komplemen C3 dan C4, faktor antistreptokokus, antibodi, imunitas seluler dan tidak menimbulkan alergi.
Mengandung zat protektif : terdapat zat protektif berupa laktobasilus bifidus,laktoferin, lisozim, komplemen C3 dan C4, faktor antistreptokokus, antibodi, imunitas seluler dan tidak menimbulkan alergi.
Mempunyai efek psikologis yang
menguntungkan : sewaktu menyusui kulit bayi akan menempel pada kulit ibu,
sehingga akan memberikan manfaat untuk tumbuh kembang bayi kelak. Interaksi
tersebut akan menimbulkan rasa aman dan kasih sayang.
3)
Keluarga
Aspek ekonomi : ASI tidak perlu
dibeli dan karena ASI bayi jarang sakit sehingga dapat mengurangi biaya
berobat.
Aspek psikologis : kelahiran jarang
sehingga kebahagiaan keluarga bertambah dan mendekatkan hubungan bayi dengan
keluarga.
Aspek kemudahan : menyusui sangat praktis sehingga dapat diberikan dimana saja dan kapan saja serta tidak merepotkan orang lain.
Aspek kemudahan : menyusui sangat praktis sehingga dapat diberikan dimana saja dan kapan saja serta tidak merepotkan orang lain.
4)
Negara
Menurunkan angka kesakitan dan kematian anak.
Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta angka kesakitan dan kematian menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, seperti diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan bagian bawah.
Adanya faktor protektif dan nutrien yang sesuai dalam ASI menjamin status gizi bayi baik serta angka kesakitan dan kematian menurun. Beberapa penelitian epidemiologis menyatakan bahwa ASI melindungi bayi dan anak dari penyakit infeksi, seperti diare, otitis media, dan infeksi saluran pernafasan bagian bawah.
Mengurangi subsidi untuk rumah
sakit. Dengan adanya rawat gabung maka akan memperpendek lama rawat inap ibu
dan bayi, mengurangi komplikasi persalinan dan infeksi nosokomial serta
mengurangi biaya perawatan anak sakit.
b) Komposisi ASI
Komposisi ASI tidak sama dari waktu
ke waktu, hal ini berdasarkan pada stadium laktasi. Komposisi ASI dibedakan
menjadi 3 macam yaitu:
1) Kolustrum : ASI yang dihasilkan pada hari
pertama sampai hari ketiga setelah bayi lahir
2) ASI transisi : ASI yang dihasilkassssn mulai
hari keempat sampai hari ke sepuluh.
3) ASI mature : ASI yang dihasilkan mulai hari
kesepuluh sampai dengan seterusnya.
C.
Faktor-Faktor yang Mempengaruhi Pemberian
Makanan pada Bayi
Hal-hal yang perlu diperhatikan
supaya pengaturan makan untuk bayi dan anak dapat berhasil dengan baik adalah
sebagai berikut :
1.
Kerjasama
ibu dan anak
Dimulai pada saat kelahiran bayi
dilanjutkan sampai dengan anak mampu makan sendiri. Makanan hendaknya
menyenangkan bagi anak dan ibu. Ibu yang tegang, cemas, mudah marah merupakan
suatu kecenderungan untuk menimbulkan kesulitan makan pada anak.
2.
Memulai
pemberian makan sedini mungkin.
Pemberian makan sedini mungkin
mempunyai tujuan menunjang proses metabolisme yang normal, untuk pertumbuhan,
menciptakan hubungan lekat ibu dan anak, mengurangi resiko terjadinya
hipoglikemia, hiperkalemi, hiperbilirubinemia dan azotemia.
3.
Mengatur
sendiri.
Pada awal kehidupannya, seharusnya
bayi sendiri yang mengatur keperluan akan makanan. Keuntungannya untuk mengatur
dirinya sendiri akan kebutuhan zat gizi yang diperlukan
4.
Kebiasaan
makan (kesukaan, ketidaksukaan dan acceptability dari jenis makanan dan
toleransi daripada anak terhadap makanan yang diberikan).
D.
Pengaruh
Status Gizi Seimbang Bagi Bayi
Tumbuh kembang anak selain
dipengaruhi oleh faktor keturunan juga dipengaruhi oleh faktor lingkungan.
Adapun faktor lingkungan yang berpengaruh adalah masukan makanan (diet), sinar
matahari, lingkungan yang bersih, latihan jasmani dan keadaan kesehatan. Pemberian
makanan yang berkualitas dan kuantitasnya baik menunjang tumbuh kembang,
sehingga bayi dapat tumbuh normal dan sehat/ terbebas dari penyakit.
Makanan yang diberikan pada bayi dan anak akan digunakan untuk pertumbuhan badan, karena itu status gizi dan pertumbuhan dapat dipakai sebagai ukuran untuk memantau kecukupan gizi bayi dan anak. Kecukupan makanan dan ASI dapat dipantau dengan menggunakan KMS. Daerah diatas garis merah dibentuk oleh pita warna kuning, hijau muda, hijau tua, hijau muda dan kuning. Setiap pita mempunyai nilai 5 % perubahan baku. Diatas kurve 100 % adalah status gizi lebih. Diatas 80 % sampai dengan batas 100 % adalah status gizi normal, yang digambarkan oleh pita warna hijau muda sampai hijau tua.
Makanan yang diberikan pada bayi dan anak akan digunakan untuk pertumbuhan badan, karena itu status gizi dan pertumbuhan dapat dipakai sebagai ukuran untuk memantau kecukupan gizi bayi dan anak. Kecukupan makanan dan ASI dapat dipantau dengan menggunakan KMS. Daerah diatas garis merah dibentuk oleh pita warna kuning, hijau muda, hijau tua, hijau muda dan kuning. Setiap pita mempunyai nilai 5 % perubahan baku. Diatas kurve 100 % adalah status gizi lebih. Diatas 80 % sampai dengan batas 100 % adalah status gizi normal, yang digambarkan oleh pita warna hijau muda sampai hijau tua.
E.
Dampak
Kelebihan dan Kekurangan Gizi pada Bayi
Makanan yang ideal harus mengandung
cukup energi dan zat esensial sesuai dengan kebutuhan sehari-hari. Pemberian
makanan yang kelebihan akan energi mengakibatkan obesitas, sedang kelebihan zat
gizi esensial dalam jangka waktu lama akan menimbulkan penimbunan zat gizi
tersebut dan menjadi racun bagi tubuh. Misalnya hipervitaminosis A,
hipervitaminosis D dan hiperkalemi.
Sebaliknya kekurangan energi dalam
jangka waktu lama berakibat menghambat pertumbuhan dan mengurangi cadangan
energi dalam tubuh sehingga terjadi marasmus (gizi kurang/ buruk). Misalnya
xeroftalmia (kekurangan vit.A), Rakhitis (kekurangan vit.D)
BAB IV
PENUTUP
PENUTUP
A.
Kesimpulan
Dari
pembahasan di atas dapat disimpulkan bahwa Masalah gizi merupakan hal yang
komplek di Indonesia. Sampai saat ini ada lima masalah gizi utama di Indonesia,
yaitu Kurang Energi Protein (KEP), Anemia Gizi Besi (AGB), Kurang Vitamin A
(KVA), Gangguan Akibat Kekurangan Iodium (GAKI) dan Obesitas. Energi dan
protein merupakan zat gizi makro, sedangkan zat besi, vitamin A dan Iodium
merupakan zat gizi mikro. Banyak faktor yang mempengaruhi asupan gizi
masyarakat tersebut.
Gizi
juga dapat mempengaruhi pertumbuhan pada bayi untuk itu ada beberapa prinsip
gizi seimbang pada bayi yaitu, makanan terbaik bagi bayi adalah ASI. Namun,
dengan bertambahnya umur bayi dan tumbuh kembang, bayi memerlukan energi dan
zat-zat gizi yang melebihi jumlah ASI. Bayi harus mendapat makanan
tambahan/pendamping ASI. Selain itu ada Hal-hal yang perlu diperhatikan supaya
pengaturan makan untuk bayi dan anak dapat berhasil dengan baik. Jika asupan
gizi pada bayi tidak diperhatikan dengan baik juga dapat menyebabkan dampak
kelebihan dan kekurangan gizi pada bayi.
B.
Saran
Demikianlah uraian-uraian singkat
makalah tentang maslah-masalah gizi nasional.tulisan ini msih sangat terbatas
dan memerlukan tambahan guna memperluas wawasan kita.
DAFTAR PUSTAKA
Ø Nency, Y. 2005. Gizi Buruk, Ancaman Generasi Yang Hilang. Inpvasi Edisi Vol.
5/XVII/ November 2005: Inovasi Online
Ø Notoatmojo, S. 2003.
Prinsip-Prinsip Dasar Ilmu Kesehatan Masyarakat. Cetakan Ke-2. Jakarta: Rineka Cipta
smoga brguna
BalasHapusMANtap coyyy
BalasHapusmakasih
BalasHapusmantap say
BalasHapuskeren
BalasHapusMantappp
BalasHapusBagus syong
BalasHapus